Rinjani dan apa yang saya pelajari darinya.

Bingung sebenarnya memilah apa yang pantas saya tulis sebagai postingan pertama di blog yang sejak lima tahun lalu saya buat tapi belum pernah saya isi ini. Sejenak membuka folder foto di laptop dan Rinjani memberi inspirasi. Karena ini bukan blog travelling, dan belum diputuskan juga blog ber-genre apa, maka saya hanya akan menulis saja.

****

IMG_7090
Sudowoodo, si Pokemon favorit saya di depan gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani.

Tahun 2015, awal bulan Agustus. Saya yang belum pernah naik gunung sebelumnya, nekat turut serta dengan tujuh orang teman mendaki gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lupa bagaimana detail perjalanannya, tapi pelajaran dalam perjalanan itu masih saya ingat, beberapa.

Naik gunung berarti jalan kaki berjam-jam, bahkan hari.

Iyalah, masa terbang? ya gitudeh, naik gunung membutuhkan stamina yang kuat dan kesabaran yang bulat. Jalan kaki, nikmati, jalani, kalau sudah tidak sanggup menjalani, rehat sejenak, tapi harus jalan lagi. Seperti kehidupan, kita harus terus berproses untuk mencapai tujuan. Lelah kerja? bosen kuliah? atau capekĀ  PDKT dan gak pernah jadi? (duile curhat sist) rehat sejenak, tapi jangan lupa jalan lagi! Siapa tau di jalan nanti ketemu sama yang kita cari.

Kita gak balapan, tapi seringnya gak mau ketinggalan.

Saya yang tanpa persiapan fisik seperti jogging atau olahraga lainnya dan nekat langsung ikut naik gunung Rinjani tentu harus menanggung rasa ngos-ngosan di sepuluh atau mungkin duapuluh menit pertama karena jalur Sembalun (jalur pendakian yang saya & teman-teman lalui ketika itu) ternyata tidak gemar basa-basi dan langsung menyuguhkan trek jalan setapak yang agak mendaki. Alhasil, tiap lima menit saya harus berhenti untuk menata nafas yang amburadul dan detak jantung yang serasa mau copot, sementara teman-teman saya ketahanan fisiknya sudah terlatih karena mereka jogging atau lari secara rutin beberapa waktu sebelum bertemu dengan si cantik Rinjani. Ketinggalan? ya pastilah…. rekan-rekan yang setia kawan (atau mungkin kasihan ya) acapkali ikut berhenti dan menunggu saya, seraya menyemangati untuk jalan lagi. “Biar gak misah, kita kan serombongan. Yok, semangat!”

Meskipun pada akhirnya tubuh saya terbiasa dan beradaptasi dengan ritme jantung yang makin kencang akibat jalanan yang menanjak, tetap saja saya merasa enggan untuk keep up dengan kecepatan jalan teman-teman saya sambil sesekali menyuruh mereka tetap jalan saja tanpa menunggu saya. Bukan karena saya malas, bukan…. tapi karena saya sadar bahwa dalam hidup ini, kita punya pace atau kecepatan berjalan masing-masing. Dari itu saya tidak mau terburu-buru, toh jalur pendakian kan hanya satu, pun dalam perjalanan saya bertemu aneka ragam semak berbunga indah, arak-arakan awan megah yang memancing imajinasi, atau saya bisa melempar senyum pada para pendaki lain yang memasang berbagai ekspresi. Saya menikmati perjalan itu, itu yang terpenting. Sama halnya dalam kehidupan, bisa jadi teman-teman seangkatan kita ada yang sudah lebih dahulu mendapatkan pekerjaan, mencapai kemapanan, mendapatkan pasangan, melanjutkan pendidikan, atau lebih dahulu bertemu Tuhan. Yah begitulah, akan selalu ada mereka yang lebih dulu dari kita, akan selalu ada mereka yang lebih unggul dari kita. Dari Rinjani saya percaya, bahwa tugas kita dalam kehidupan ini bukan untuk saling mengungguli atau adu cepat sampai tujuan, tapi untuk menikmati perjalanan yang kita tapaki, dengan kecepatan yang kita miliki dan membuat semua langkah terasa berarti.

Puncak bukan tujuan atau kewajiban.

Katakanlah ini hanya pembenaran saya karena saat berkunjung ke Rinjani ketika itu, saya tidak sampai ke puncak tertinggi. Namun biarkan saya beri penjelasan kenapa saya MEMILIH untuk tidak sampai ke puncak dan menikmati waktu di Plawangan Sembalun. Perjalanan dari desa Sembalun di kaki Rinjani sampai akhirnya menuju ke Plawangan Sembalun (camping ground /post terakhir sebelum menuju puncak) saya rasa cukup untuk saya. Paham benar dengan kapasitas diri dan cukup puas dengan pemandangan di ketinggian 2639 mdpl (Plawangan Sembalun) maka saya tidak ngoyo untuk menaklukan ketinggian 3726 mdpl yakni puncak Rinjani.

IMG_7354
Sudowoodo menikmati Segara Anak dari Plawangan Sembalun.

“Gue mau naik, tapi tidur dulu deh, liat nanti. Bangunin ya kalo mau jalan!” ujar beberapa kawan yang rupanya masih berkemauan kuat melihat singgasana dewi Anjani dari dekat. “Kalo gue gak usah dibangunin ya, gue gak mau naik” pesan saya dari awal ketibaan kami di Plawangan Sembalun. “Kok gak mau ke puncak? sayang lho, mumpung udah sampai disini..” tanya beberapa teman sedikit heran. Enam dari tujuh teman dalam rombongan kami ketika itu, membulatkan tekad untuk sampai ke puncak. Opsi untuk tetap tinggal di tenda alih-alih memaksakan diri ikut ke puncak, tidak pernah saya sesali, sedikitpun tidak, sampai sekarangpun belum. Tak mengapa saya tidak melihat matahari pagi dari tahta Sang Anjani, saya cukup bangga karena sanggup membendung ego, ambisi berlebih atau apapun nama hasrat itu, dorongan yang kerap membuat manusia lupa akan dirinya juga kapasitasnya dan membiaskan makna tujuan utama. Saya ke Rinjani bukan semata untuk melihat puncak, tapi menikmati setiap tapak dan membawa kenangan indahnya di benak. Lagipula, rasa pegal buah berjalan kaki sekitar 12 jam menuju Plawangan Sembalun ini masih meminta waktu untuk dinikmati.

Sudah naik, jangan lupa turun.

“Semangat yok, abis nanjak pasti ada turunan!” ujar seorang teman di rombongan, yang sedari kuliah sudah bergabung dalam tim Pecinta Alam. Semangat-semangat ini, yang membuat kami tetap berjalan, meskipun kadang rasanya ingin menyerah. Harapan-harapan seperti “setelah post satu, kita istirahat dulu,” atau kalimat “post terakhir tinggal satu jam lagi nih, yok, ayok!” jadi bahan bakar pemacu niat berjalan. Karena setelah naik, perjalanan turun gunung adalah rute yang sudah menanti. Jalani saja, jalan saja, sebisanya. Toh kita tahu, kita sudah naik dan sekarang waktunya turun.

Rinjani yang baik tidak begitu saja melepas kami untuk turun menyusuri trek Senaru tanpa menyajikan pemandangan indah dan segara anak yang megah. Untuk kesekian kalinya, saya menikmati perjalanan ini. Ah, kamu Rinjani.

IMG_7689
Gunung Baru Jari, anak gunung Rinjani yang terlihat jelas saat perjalanan menuju Senaru.

Jadi…..

Rasa-rasanya dalam hidup juga kita harus begitu, meskipun kita tahu, bahwa jalannya menuju kebawah, membawa kita lebih rendah dari keadaan semula, tapi bukan berati tidak layak untuk kita nikmati dan syukuri. Toh kita tahu, jalur menurun ini harus kita tapaki untuk beralih ke lokasi lainnya, toh kita juga sudah tahu bagaimana rasanya berada diatas sana, tadi. Rasa syukur tergenapi dengan kehadiran teman-teman yang ada.

Belum lagi kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih jauh lagi. Pernah dengar kan bahwa kita dapat melihat karakter asli seseorang ketika dia dalam kesusahan, naik gunung adalah cara yang paling jitu untuk mengetahui hal itu.

Bagi saya, menapaki bukit demi bukit dan tebing terjal Rinjani ibarat kursus keterampilan hidup yang diberikan dalam beberapa hari. Mungkin tidak semua dapat dengan cepat saya pahami. Namun satu yang pasti, saya sadar betul yang terpenting dalam menjalani hidup ini adalah bagaimana cara kita menikmati setiap langkah yang kita ambil, kemudian bagaimana kita memaknai keberadaan mereka yang menemani.

IMG_7718
Lelah perjalanan terobati dengan senda gurau di tepi Segara Anak, bersama teman tentunya.