Suaramu gak bagus saat bernyanyi? googling frasa ini : Congenital Amusia

Dalam perjalanan hidup, saya beberapa kali dipertemukan dengan teman yang bersuara indah ketika menyanyi. Sebagai seseorang yang sangat menyukai musik dan nyanyian, tentu saya super kagum dengan kemampuan teman-teman saya ini. Bahkan saya mengidolakan beberapa diantara mereka, meskipun mereka bukan penyanyi terkenal. Mereka teman saya dan suaranya bagus, sangat bagus. Yah, paling tidak bisa membuat saya merasakan emosi yang sedemikian syahdu ketika mendengar mereka bernyanyi.

Tidak jarang, saya dan pikiran saya yang sederhana bertanya “Kok bisa ya ada orang bisa nyanyi dengan suara bagus begitu, dan ada juga orang yang gak bisa nyanyi sama sekali? kenapa? kenapa? kenapaaaa????”

Pikiran itu adalah campuran heran dan rasa tidak terima. Karena saya masuk kategori kedua, mereka yang tidak bisa bersuara merdu ataupun bagus ketika menyanyi. “Elu kan penyiar radio, masa gak bisa nyanyi?” tanya seorang kawan beberapa tahun lalu, ketika saya masih bekerja di salah satu stasiun radio di Jakarta. Jawaban dari pertanyaan itupun saya tidak tahu, ketika itu.

Beberapa tahun berlalu, barulah saya tahu, dari seorang teman lain, yang kebetulan berprofesi sebagai video editor di Metro TV sekaligus guru musik paruh waktu di salah satu sekolah gitar kenamaan. “Elu buta nada! masa nada do sama re aja gak bisa bedain…”

Begitu katanya, untuk meyakinkan saya, sang teman mengunduh aplikasi guitar tuner yang biasa digunakan untuk mengatur suara senar-senar gitar. Dimintanya saya untuk mengeluarkan nada do-re-mi-hingga do tinggi, kemudian kami bersama melihat indikator yang ditampilkan si aplikasi gitar tunner tersebut. Alhasil, nada apa yang saya produksi dari mulut ini, nyatanya tidak dibaca demikian oleh si aplikasi. Nada do rendah saya, dibaca sebagai mi, kemudian dari itu tidak lantas naik ke nada fa, tapi malah menurun. Kacau, amburadul. Saya buta nada, titik.

Bertahun setelahnya, saya mendapati sebuah artikel tentang penelitian psikolog spesialis kognisi musik,  Professor Bill Thomson dari Macquire University Australia,  yang menyebut bahwa….. pada dasarnya orang yang menderita buta nada memiliki kondisi yang disebut congenital amusia, yang membuat mereka sulit untuk menyanyi dengan nada yang benar. Hah?! Conge?? budeg gitu maksudnya yak?? Eits bukan gitu, jadi Congenital amusia ini katanya sih disebabkan kesalahan pada otak dalam membedakan antara perbedaan kecil dalam tinggi nada. (Alhamdulillah, bukan disebabkan karena tersumbatnya indera pendengar oleh sesuatu gitu yak hehehe).

Tapi pada beberapa orang masalah sebenarnya ada pada ketidaksambungan antara bagian-bagian otak yang mengambil suara dan bagian dari otak yang memahaminya. Amusia adalah gangguan dalam memproduksi dan mendengarkan tinggi nada, karena kan kita harus mendengar terlebih dahulu untuk kemudian dapat memproduksi suara yang benar atau mirip degan yang dicontohkan.

Faktor genetika juga ternyata bisa menjadi alasan kenapa seseorang buta nada sehingga tidak bisa memproduksi suara yang ciamik ketika bernyanyi.  Jadi katanya, otak manusia bersifat “plastis” alias mudah dibentuk, sehingga interaksi penting antara gen dan lingkungan bisa membantu menentukan kemampuan kita bernyanyi.

Menurut penelitian, terpapar musik di tahun-tahun awal kehidupan dan didorong untuk menyanyi adalah hal penting dalam pengembangan bakat menyanyi seseorang. Contoh lainnya adalah, apa yang terjadi pada kebanyakan mahluk hidup, misalnya, burung gagak. “Burung gagak belajar menyanyi dengan meniru induk mereka,” begitu menurut penelitian dari University of Canberra. Sehingga, kalau seorang anak sejak bayi dipertemukan dengan orang tua atau guru yang pandai bernyanyi, maka sang anak akan meniru dan belajar bagaimana cara menyanyi yang apik.

Baiklah, sekarang saya tahu siapa yang harus saya salahkan. Mama dan papa, terimakasih ya… :”)

Namun demikian, mungkin memang di dunia ini ada manusia-manusia yang diciptakan untuk pandai bernyanyi, jago menari, lihai berenang, lincah mengendarai sepeda motor, atau mahir merangkai kata untuk pidato atau sekedar disusun dalam sebuah tulisan yang menarik. Sayangnya saya bukan termasuk kategori manapun dari orang-orang yang saya sebutkan tadi. Jadi, saya bisa apa dong? Saya… bisa menerima dengan ikhlas keadaan ini. Itu saya sudah cukup, bukan?