Kenapa iya, kenapa dia.

“Kenapa akhirnya mau menikah?”

“Bukannya dulu lo bilang gak mau nikah ya?”

“Ah yang bener?? sama siapa?”

“Yakin lo? emangnya lo punya pacar?!”

“Finally! i’m glad that you change your mind”

Diatas adalah rangkuman dari beberapa kalimat yang dilontarkan teman-teman saya ketika saya bercerita bahwa saya punya rencana untuk menikah, atau mereka yang heran karena temannya ini kan gak pernah posting sesuatu di sosial media yang mengindikasikan dia punya seseorang spesial macem martabak keju bertabur remahan oreo. Bingung jawabnya gimana, lebih bingung lagi untuk menceritakannya, sebenarnya. Tapi kebingungan itu membuat saya berpikir, mungkin ada baiknya hal ini dielaborasi dalam bentuk tulisan. Sekalian juga update postingan blog yang udah lama terlantar. Emang males aja sih anaknya. Kalopun gak ada yang baca, setidaknya bisa jadi pengingat saya. Penanda waktu bahwa dalam suatu masa di hidup saya, saya pernah berpikir seperti ini dan seperti itu. Oke, mari kita mulai.

Kenapa”iya” mungkin adalah hal yang akan saya bahas terlebih dulu. Kenapa iya. kenapa ya? kenapa akhirnya iya?

Ya…. karena “iya” aja. Hahahaha

Mungkin ini berkaitan erat dengan kenapa “dia”. Mungkin kalau bukan “dia”, tidak akan ada “iya”. Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Kenapa iya; karena dengan dia, sejak awal saya tidak pernah merasa bingung harus bagaimana, harus bicara apa, musti terlihat seperti siapa, enaknya bersikap kayak apa. Saya menjadi saya apa adanya, dan saya tidak pernah takut nantinya dia akan berpikir apa tentang saya.

Karena setiap bersama dia, saya tidak pernah merasakan perasaan bergejolak, deg-deg-an atau apa yang disebut orang-orang barat sebagai “butterfly in my stomach” gitu deh. Karena saat berbincang dengan dia, rasanya seperti bertemu teman lama yang belum pernah saya kenal sebelumnya, tapi entah kenapa mendadak akrab dan nyambung aja gitu deh ya.

Karena saya rasa dia bisa diajak kerjasama. Karena saya percaya bahwa dia bisa dipercaya. Karena Tuhan… mungkin memang mendesain ini sedemikian rupa. Tsaelah, alasan terakhir udah pamungkas deh kayaknya. Hahahaha.

Saya pernah sedemikian skeptis pada relasi romantis umat manusia mulai dari pacaran sampai pernikahan. “Buat apa?” pikir saya.

Saya pernah (Sampai sekarang masih juga sih) jijik setengah mati dengan postingan sosial media mereka-mereka yang terlalu sering mengumbar kemesraan dengan pacarnya, lantas tak berapa lama kemudian, berganti objek. Ya, berganti pacar. Postingan manja penuh cinta mendadak berganti kegalauan tiada tara, kemudian berganti lagi, dengan postingan cinta-cinta-an lainnya, dengan manusia berbeda. Waw! amazing. Ah, tapi saya emang nyinyir aja sih. Etapi apa mereka gak malu ya? hm… atau sedih gitu?

Oh iya, ada penelitiannya lho. Mereka yang kerap mengumbar segala sesuatu tentang pasangannya di sosial media sesungguhnya adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri atau self esteem rendah. COBA CEK DISINI, KLIK AJA LINK INI.

Eh ada lagi artikel penelitian seputar mereka yang oversharing kemesraan atau apapun tentang relasi romantisnya di sosial media. Saya listing aja ya :

  1. Couples oversharing on social media do so to mask relationship insecurities
  2. Here’s why happy couples post less about their relationships on social media

  3. Smug couples who post selfies on social media are more likely to be unhappy and insecure

Lho, postingan ini semestinya kan berisi ribuan alasan dan kalimat romantis tentang kenapa saya akhirnya mau menikah. Kok malah nyinyiran aja isinya. Begini, setelah saya pikir, alangkah lebih baik kalo saya membuat tulisan yang informatif dan bisa membantu banyak orang (untuk gak oversharing romantis di media sosial dan juga memandang rendah mereka-mereka yang memilih untuk tidak/ belum punya object of affection) dengan ngasih tiga link artikel diatas. Semoga berguna, dan doakan saya ya. Saya juga doakan kamu yang baik-baik. Beneran deh.

Advertisements

Let’s agree to disagree

Setuju untuk tidak setuju atau sikap terbuka pada hal-hal yang berbeda dari apa yang kita percayai maupun yakini nampaknya masih sulit diterapkan di negeri ini. Contohnya sering saya temukan di kehidupan sehari-hari. Entah di kantor, jalanan, kelas-kelas, maupun televisi. Seolah jika ada yang tidak setuju atau mengikuti “budaya” yang sudah membiasa, adalah salah. Susah.

Menjadi susah karena saat kita belum setuju untuk tidak setuju, potensi konflik dari relasi manusiawi semakin tinggi. Mereka yang lebih dahulu makan asam garam dan berpengalaman kerap merasa pandangannya adalah hal yang paling absolut. Lantas mereka yang membawa pandangan perubahan, yang menjadi lawan, menilai keabsolutan si pendahulu sudah usang . Berganti kenyataan baru, hal lain yang lebih relevan, dengan jaman maupun masyarakat yang ada sekarang, namum menggunakan penyampaian yang “agak tidak atau belum bisa diterima” oleh kelompok lainnya.

Setuju untuk tidak setuju dan menjadi terbuka pada argumentasi lain yang berbeda padangan terasa cukup melelahkan memang. Apalagi kalau, pada praktiknya, ketika berdebat (atau bisa juga dibilang berdiskusi) kita cenderung menggunakan emosi alih-alih logika, dan lebih parah lagi, melakukan penyerangan (atau pembelaan) dengan argumentum ad hominem. Waduh, apa lagi ya itu?

Argumentum ad hominem adalah cara berdebat yang menyerang pribadi lawan debat secara langsung, bukan argumennya. Shoot the messenger, not the message. Hal ini, seringnya membuat sebuah perdebatan konstruktif menjadi debat kusir yang penuh retorika.

Penalaran ad hominem dalam ilmu filasafat dinilai sebagai kesesatan logika atau logical fallacy karena kerap tidak relevan dengan apa yang sebenarnya sedang dibahas atau diperdebatkan. Contohnya…. hm…. ketika debat paslon gubernur DKI Jakarta… ah jangan ini deh, nanti panjang urusannya (tapi saya sangat berharap kawan-kawan menelaah lagi debat kandidat cagub cawagub DKI, sungguh. Banyak sekali argumentum ad hominem disana, sumpah).

Baiklah, contoh sederhana. Ketika berdebat tentang seni, lukisan misalnya,  kita menilai lukisan Van Gogh adalah buruk karena perilaku sang maestro yang kerap nyeleneh baik dalam kehidupan maupun ketika mengerjakan karyanya. Apa saja nyelenehnya? coba klik tautan ini, supaya kita punya intertekstualitas yang sama. Lukisan Van Gogh adalah buruk karena perilaku Van Gogh tidak bisa dibilang baik ataupun “normal”. Relevan, tidak?

van gogh starry night
Lukisan bertajuk “Starry Night” karya Vincent Van Gogh. Buruk, kah?

Contoh lain kesesatan logika yang berisi argumentum ad hominem : “karena seseorang adalah murid/ junior/ masih muda maka semua argumennya salah”. Dengan kesesatan logika (yang banyak terjadi dimana-mana) maka emosi jiwa yang berkuasa. Salah, semua yang beda adalah salah.

Ya, begitulah kira-kira. Gejala argumentum ad hominem seperti ini menghalangi kita untuk belajar jujur mencari sebab suatu masalah. Dalam argumentum ad hominem, ukuran kebenaran yang digunakan adalah penilaian terhadap orang yang menyampaikan pernyataan atau argumentasi.

Secara sederhana, argumentum ad hominem muncul saat ada keinginan untuk menang.  Saat dimana seseorang tidak bisa menerima kenyataan sehingga akhirnya mencari-cari subjek lain untuk dipersalahkan.

Jalan tengah yang baik untuk hal ini, menurut saya, adalah dengan selalu berusaha mengidentifikasi persoalan dan mencari kejelasan tentang apa sebenarnya yang dipermasalahkan, sambil juga menyadari bahwa adalah wajar dan bukan sesuatu yang harus dipersalahkan jika individu lain memiliki sudut pandang berbeda dengan kita. Ah, damai nian pasti rasanya kalau saja manusia dapat menerapkan hal tadi itu dalam kehidupan yang penuh dialog ini. Ketidaksetujuan tanpa konflik mungkin masih sulit, tapi bukanlah hal yang tidak mungkin.

Dalam hidup, selain sering bertemu dengan kondisi argumentum ad hominem, saya juga masih sering menerapkannya. Tulisan ini menjadi pengingat, bahwa saya pernah sejenak sadar bahwa dalam perdebatan, bukan siapa benar atau salah yang paling utama, melainkan bagaimana dua (atau lebih) pendapat dapat menemukan titik equlibrium yang lantas menyelesaikan masalah, bukan malah menambah.

Belajar berbeda, belajar menerima, belajar bersama.

Let’s agree to disagree, shall we?

Kalimat

“Saya sayang kamu, …..” adalah kalimat yang sering saya gunakan untuk meyakinkan teman-teman saya betapa berartinya mereka dalam hidup ini. Dalam hidup saya dan dalam kehidupan mereka sendiri. Kadang manusia memang harus selalu diingatkan tetang makna keberadaan mereka di dunia.

Kalimat “Saya sayang kamu” ke teman-teman ini adalah kalimat yang saya lontarkan sepenuh hati karena memang saya sayang pada mereka. Namun lebih dari itu, kalimat itu saya ucap sambil berdoa agar teman-teman saya itu diberi kekuatan menghadapi apapun rintangan dalam hidupnya. Ya, seringnya kalimat “saya sayang kamu” jadi mantra mujarab saya untuk menenangkan teman-teman saya. Sekaligus pengingat kalau mereka memang berharga. Karena, sekali lagi saya ulangi, manusia sering selalu harus diingatkan lagi dan lagi soal berartinya mereka di dunia ini.

Dari sekian banyak “Saya sayang kamu” yang pernah keluar dari mulut saya, beberapa diantaranya bukan saya ucap untuk menenangkan lawan bicara, namun untuk menenangkan jiwa saya, saya sendiri.

Seperti kalimat “Kakak sayang papa” atau “Kakak sayang mama” dan “Kakak sayang Iko” yang pernah saya ungkapkan kepada Papa, Mama dan Adik saya. Saya ingat, moment ketika saya mengucapkan kalimat itu kepada mereka, di tempat terpisah, di waktu yang tidak bersamaan.

“Kakak sayang Papa,” saya ucapkan ketika papa saya akhirnya mengijinkan saya untuk memilih pilihan hidup saya sendiri, pilihan yang awalnya dinilai tidak begitu baik oleh Papa. Saya berucap demikian sambil memantapkan diri untuk membuktikan bahwa pilihan saya ini akan baik, sebaik yang saya percayai.

“Kakak sayang Mama,” saya ucapkan sambil menangis dan memeluk mama ketika saya sadar bahwa ada kelakuan atau perkataan yang tidak sepantasnya dari saya pada Mama. Kalimat ini saya ucap sambil menyesal, dan berharap mama memaafkan saya, yang ternyata akan selalu memaafkan sekalipun saya tidak bilang sayang.

“Kakak sayang Iko,” saya ucapkan tahun 2015, saat adik saya menangis di ujung telepon sambil menceritakan betapa sakit hatinya karena suatu hal yang enggan saya ceritakan di postingan ini. Tapi ketika itu, saya seperti bisa merasakan sendiri sakit hati yang dirasakan oleh adik saya. Menenangkan diri, saya sebut kalimat ajaib tadi.

Sekitar tahun 2007, saya juga pernah berujar “Saya sayang kamu” pada seorang teman, ketika itu saya merasa butuh berkata demikian karena saya harus menenangkan diri saya, menghadapi kenyataan bahwa teman ini akan pergi jauh. Perpisahan yang lama meski bukan selamanya.

Hari ini, kalimat “Saya sayang kamu” terlontar lagi dari mulut saya untuk seorang teman. Entah kenapa saya berkata demikian, rasanya ingin saja. Tanpa peduli apa yang akan dilakukan atau dirasakan oleh sang teman. Karena ini bukan soal dia, tapi soal saya. Egois. Memang. Karena saya berujar “Saya sayang kamu” bukan maksud untuk menyadarkannya bahwa rasa itu ada di hati saya, tapi karena saya tiba-tiba ingin berujar saja. Saya tiba-tiba merasa perlu, mengucap kalimat demikian ke teman itu. Duh, padahal sudah saya coba untuk tidak bilang…. Saya sudah coba tahan-tahan.

Lantas saya teringat perbincangan telepon ketika si teman itu pernah mengucapkan kalimat yang kurang lebih sama, beberapa waktu lalu. Cukup lama, lebih dari hitungan minggu. Ketika itu saya menjawab “Saya nyaman bersama kamu” tanpa merasa perlu membalas “Saya juga sayang kamu.” Jahat ya, tapi mau bagaimana, sayang itu kan dirasa. Mengucapkannya perlu hal lain, tak hanya perasaan saja. Jadi ketika itu, dengan pertimbangan yang saya punya, saya jawab “Ya, sejauh ini saya nyaman bersama kamu.”

“Saya sayang kamu” hanyalah sebuah kalimat tunggal yang terdiri dari kata benda satu, kata kerja, dan kata benda dua. Selanjutnya kata benda satu dapat kita sebut subjek, dan kata benda dua kita kenal sebagai objek. Begitu, kalau penjelasan guru bahasa Indonesia jaman saya sekolah dulu.

Nyaris saja tulisan ini urung saya terbitkan dan ingin saya hapus karena malu. Bagaimana kalau ada yang baca? ah, tidak banyak orang yang tahu blog saya ini. Bagaimana kalau ada yang menilai saya terlalu mendayu? wah iya, saya kan harus terlihat kuat tegar dan bersahaja. Tapi, ah, biarkan saja. Bagaimana kalau teman itu yang membaca? Nah! itu salah satu kekhawatiran terbesar saya. Tapi saya rasa tidak dalam waktu dekat dia akan membaca tulisan ini. Mungkin nanti, dalam hitungan bulan, atau lebih dari itu. Semua “bagaimana kalau…” luluh dengan keegoisan saya untuk menerbitkan tulisan ini. Keegoisan yang membiarkan tulisan ini menjadi penanda waktu, bahwa saya pernah bilang “Saya sayang kamu.” Jadi paling tidak, kalaupun cerita tidak sesuai dengan harapan nantinya, kamu atau saya tidak perlu khawatir, karena saya sudah mempersiapkan kalimat “Saya pernah sayang kamu”. Dan ini, penanda waktu itu.

Duh sok manis banget idupnya. Besok kita makan pare yak, biar gak diabetes!

Berpikir jauh kedepan

Sally nama gadis itu, dia memutuskan untuk selalu berpikir kedepan. Bukan untuk merancang bagaimana kehidupan kelak, tapi semata agar hidupnya tidak terlalu pekak karena suara-suara di pikirannya. Suara bising, membisikkan aneka jenis pikiran, dari kepalanya sendiri. Hanya dia saja.

time-running-out

Sejak duduk di bangku SMP, Sally selalu merasa bahwa tubuhnya lebih besar dari teman-teman perempuan yang seusianya. Ketika SMA, perasaan yang sama masih juga ada di benak Sally. Pun begitu ketika Sally duduk di bangku kuliah. “Duh, gue gendut banget deh…” Sally membatin setiap kali usai berselfie atau sekedar foto bersama dengan kawan-kawannya.

Waktu berlalu, Sally kini sudah berusia 25 tahun. Melihat kembali foto-foto kenangan ketika Sally berkuliah, segaris senyum terlukis di wajahnya. “Wah, ternyata gue kurus ya pas kuliah. Sekarang gue gendut banget…”

Membalik album kenangan, perhatian Sally terpaku pada foto yang mengabadikan momen ulang tahun sahabatnya kala SMA. Di foto itu Sally mengenakan kemeja bermotif bunga-bunga berwarna kuning dengan campuran jingga, dipadu celana jeans model cutbray yang ketika itu sedang sangat populer di kalangan remaja. “Gilak, pas SMA gue sekurus ini tho… sama lah sama anak-anak perempuan lainnya..”

Satu lagi foto yang menarik mata Sally. Gambar lima bocah berseragam putih biru yang sedang bergaya di lapangan sekolah. Sally kenal sekali dengan gadis kecil yang tersenyum sumringah, sambil menenteng jajanan favoritnya, cimol bumbu keju balado. “Ck..ck..ck.. pas SMP ternyata gue gak gede-gede banget ya. Kok dulu gue mikirnya gue paling gede diantara anak perempuan lain. Mereka kurus dan gue gendut… tapi kalo sekarang gue liat di foto ini. Sama ah ukuran badannya…”

Melihat kembali kenangan masa lalu membuat Sally terpaku. Sally sadar bahwa betapa selama ini pikirannya telah banyak membohongi Sally. Tentang bagaimana sang pikiran membuat Sally merasa selama ini bobot badannya lebih berat dibandingkan kawan sebaya. Tentang kelakuan pikirannya yang membuat Sally percaya bahwa Bagas, mantan pacarnya ketika SMP adalah lelaki yang baik dan penyayang serta setia. Bahwa ketika Sally dan Bagas putus saat SMA karena Sally mendapati Bagas selingkuh dengan teman Les nya, adalah kesalahan Sally, karena Sally sibuk dengan segudang ekskul yang diikutinya. Pikirannya juga pernah membuat Sally percaya bahwa tidak ada lelaki lain yang lebih baik, penyanyang, perhatian dan layak untuk dicintai selain Bagas.

Belasan tahun kemudian, Sally yang kini berusia 25 tahun hanya bisa tersenyum. Kadang pula tertawa, mengingat kembali bagaimana pikirannya membodohinya. Sally yang berusia 25 tahun belajar banyak, tersadar bahwa dia semestinya berpikir jauh kedepan.

Bahwa semuanya akan berlalu, dan segala cerita sial maupun kesedihan suatu saat akan menjadi bahan bercandaan yang lucu. Hidup itu lucu. Selucu anak SMP yang selalu merasa tubuhnya gemuk, padahal ukuran bajunya ketika itu adalah “S”. Hidup itu lucu. Selucu anak SMA yang baru merasakan cinta monyet dan perpikir itu adalah cinta terakhirnya.

Hidup itu lucu, selucu gadis 25 tahun yang kebingungan tentang apa yang harus dia lakukan di dalam hidupnya.Setidaknya cerita ini akan menjadi lucu, ketika sang gadis sudah menginjak usia 30 tahun, atau ketika dia sudah bertemu dengan tujuannya.

Sampai saat itu tiba, ingat saja…. berpikirlah jauh kedepan. Bukan untuk berencana, tapi untuk percaya bahwa semuanya akan lucu pada waktunya. Ah, nanti juga semuanya akan baik-baik saja.

Jakarta, 23 Maret 2017. 3:27 AM. Ditulis oleh manusia yang mendadak ingin menulis tapi tidak tahu ingin menulis apa, manusia yang harusnya tidur dan beristirahat, namun belum tahun bagaimana caranya.

The perks of being a mortal

Kepastian bahwa manusia punya ajalnya masing-masing adalah mengerikan buat banyak orang. Dari zaman Socrates, kematian adalah hal yang ditakutkan para homo sapiens.
Namun demikian, seiring berjalannya waktu, saya menemukan beberapa keuntungan menjadi mahluk yang pasti mati dan tidak abadi.

image

Gak akan banyak ulang tahun
Ih inituh hal yang enak tau, jadikan kita gak usah banyak neraktir orang dalam kesempatan yang gak kalah banyak. Terus juga orang-orang itu gak perlu beli lilin angka sampai tiga buah. Paling berapa sih umur manusia jaman sekarang? Gak nyampe ratusan. Yang mati muda, banyak!

Jadi lebih optimistic
Ngaku deh, sepanjang hidup, berapa banyak target yang udah kamu buat?
Umur 17 tahun target punya patjar atau kalo gak punya sim terus bawa kendaraan sendiri terus jadi bisa cari patjar deh. Umur 19 tahun target masuk perguruan tinggi bergengsi, terus ketemu lawan jenis yang satu visi, ngobrolnya nyambung, terus dipatjarin deh. Patjar yang ketemu waktu umur 17 tahun dikemanain? Ya kalo masih belum putus dijalanin aja sekalian, toh hidup ini gak selamanya kan. Hahahaha
Terus umur 22 target punya kerjaan kece, di tempat kerja kalo ada lawan jenis yang gak kalah kece, boleh juga tuh dijadiin… Apa? Yup! Sekarang kamu Udah ngerti banget ya… Mari kita ucapkan bersama-sama… “Patjar!”
Waduh kok targetnya patjar semua yak. Ya gitu deh, dalam tiap stage age, kita pasti punya target dan jadi optimistis, karena kita tau disatu saat hidup kita akan berenti gitu. Jadi kita cepet-cepet deh pasang target. Berlomba-lomba meraih kesuksesan gitu. Kalo kita gak mati-mati, mungkin banyak manusia yang akan menargetkan untuk lulus kuliah ketika mereka berumur 2589 tahun. Toh gak mati-mati ini yakan.

Gak perlu ngerasain sakitnya wolverine & captain america.
Eits, kata siapa wolverine gak bisa sakit? Iyasih manusia serigala bertulang adamantium ini punya kemampuan self healing yang mengukuhkan imortality-nya dia. Begitu juga captain america yang kebal segala serangan musuh berkat tameng andalan dan kekuatan fisik yang super banget sampai gak bisa mati. Tapi keabadian pun nyatanya gak membuat hati si Wolverine yg maha gagah dan sang captain yang kulitnya masih kuenceng dan kekeur meskipun udah idup sejak perang dunia kedua itu jauh dari sifat rapuh, fragile, dan segala kata sifat yang bertentangan dengan sesuatu yg kuat perkasa. Sampai-sampai keduanya harus menahan rasa sakit sedemikiam rupa di hati ketika ngeliat satu-persatu orang yang mereka sayang harus pergi, mati. Terus mereka nangis, sedih gitu, karena mereka gak mati-mati dan teman-temannya, patjarnya, keluarganya, semua yang pernah berarti di hidupnya mereka….mati. Ninggalin mereka yang terjebak dalam keabadian. Tau dong rasanya ditinggalin tuh kayak gimana?
Dan kedua tokoh ini harus SIAP ditinggalkan para mahluk mortal kesayangan mereka, sepanjang hidupnya. Ouch!

Bisa pake hesteg #YOLO
Yoi, bro!!! You Only Live Once gitudeh…
So you can do whatever you want to do gitudeh…
So you can take selfies everywhere, posting whatever things as you pleased and type the hastag #YOLO. Yeay!
Entah itu melakukan hal-hal paling konyol, bodoh, atau membahayakan diri sendiri juga orang lain, dapat dimaklumi kalo kamu pakai hastag #YOLO. Udah, segitu aja penjelasan saya untuk bagian ini. #YOLO RENUNGIN AJA SEMAMPU LO, YO….

Jadi lebih berhati-hati
Karena kita takut mati tapi kita sebagai manusia sadar banget kalo banyak hal di dunia ini yang bisa bikin kita mati, kita jadi akan lebih berhati-hati. Kita kalo nyebrang jadi liat kanan kiri gitukan, atau akan lebih milih naik jembatan penyebrangan aja.
Terus kalo berenang di laut juga kita jadi liat-liat, kalo ombaknya gede, ya kita liatin aja dari tepi pantai, gak jadi nyebur, daripada kebawa ombak, tenggelem terus mati.
Kita kalo ngomong juga jadi hati-hati, karena takut nyakitin hati orang lain terus berujung dendam terus orang itu bikin kita mati, entah dengan racun atau mutilasi. Wah kok ini serem ya, tapi ini terjadi, di dunia ini. Baca portal Berita online gih kalo gak percaya.

There is not love of life without despair about life. -Albert Camus, The Stranger-

Tak selamanya, Tak mengapa.

Ada beberapa atau mungkin malah banyak hal dalam hidup ini yang dari awal mulanya sudah dapat kita rasakan bahwa hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Namun pada kenyataannya tetap kita nikmati saja, sambil curi-curi harap bahwa waktu akan memuai, setidaknya memperpanjang saat. Ambil contoh sebuah hubungan , atau sebuah benda kesayangan. Be it a relationship, a friendship, or even a ship, nothing is last forever. Ya, kita sebagai mahluk mortal mestinya sadar sejak awal bahwa semua akan berakhir. Semua apa, tanpa terkecuali. Postingan kali ini saya tujukan untuk aneka kesempatan, kejadian, benda dan manusia yang pernah atau sedang ada dalam hidup saya, yang saya tahu pasti akan pergi, atau hilang, atau dicuri orang, atau ditelan waktu, apapun itu yang menjauhkanya dari hidup saya. Bahkan si “hidup”-pun pasti akan pergi dari saya, nanti. Buat menemani kamu, mungkin ada baiknya klik link ini biar bacanya makin syahdu gitu.

DSC_0144
Pemandangan dari belakang salah satu patung Budha di candi Borobudur. Foto ini saya ambil saat solo trip ke Magelang tahun 2014. Membuat saya berpikir, sudah berapa lama bukit dan patung Budha itu saling pandang? Apa memang dari awal demikian?  Lantas sampai berapa lama mereka akan terus begitu bertahan?

*****

Ketidakabadian datang diantara kita, kamu, saya, dia, ayahnya, ibunya, kakaknya, saudaranya, rumahnya, kebunnya, hewan peliharaannya, bunga-bunganya, ideologinya, gaya rambutnya, konsistensi rasa pada kuah bakso yang diraciknya, juga datang pada derajat suhu di udaranya. Ketidakabadian yang diam-diam didoakan agar pergi saja, sirna. Tapi doapun kalah ternyata, ketidakabadian tetap ada.

Manusia-manusia berharap dapat lebih lama lagi, semenit, lima menit, sehari, setahun, selamanya! Selamanya! padahal mereka sadar selamanya tidak pernah datang, bahkan dia tidak sudi bertandang ke dunia. Bukan bumi ini, manusia.

Ketidakabadian yang disederhanakan sebagai “perubahan” oleh beberapa dari mereka. Lantas dibuatlah kalimat bijak bahwa satu-satunya hal yang tidak pernah berubah adalah perubah itu sendiri.

Tapi mahluk-mahluk mortal ini selalu rindu “abadi”, selalu ingin lebih lama lagi, padahal ketika sesuatu itu terjadi, mereka seringnya tidak disana. Entah memikirkan apa yang sudah terjadi, atau menghawatirkan besok harus berbuat apa lagi. Kemudian mereka berusaha, memeluk seerat mungkin apa yang ingin dipertahankan, mengerahkan daya upaya. Mahluk mortal tidak sadar bahwa semua akan percuma, tapi mahluk mortal bahagia. Itu saja, cukup itu saja.

Sayapun juga, mahluk mortal. Saya sering abai, membodohi diri sendiri bahwa ada yang akan abadi, ada yang akan selamanya, meskipun dari awal saya tahu, itu hanya halusinasi. Mimpi!

Tapi……

Tak selamanya-pun tidak mengapa. Tak selamanya bukan tidak bermakna. Dia ajarkan kita untuk meresapi rasa, menikmati masa, mensyukuri yang ada. Dia mengajarkan kita tentang batas ditengah keyakinan kita bahwa manusia adalah mahluk bebas.

Tak selamanya juga tak mengapa, toh semua kita hanya diberi sekali hidup. Jikapun ada yang percaya reinkarnasi, kita tidak akan menjadi kita lagi. Cerita tidak akan sama semula.

Terimakasih semuanya, untuk semua yang tidak selamanya, dari saya, mahluk mortal yang sadar bahwa ini akan berakhir, bahwa begitu jalannya takdir.

-Jakarta, 14 Mei 2016. 2:23 AM-

-Rossalyn Asmarantika, yang terjaga ditengah malam dan tiba-tiba ingin menulis saja-

Somebody for someone

Duh, agak galau gak sih judulnya itu? Ya tergantung perasaan kamu yang lagi baca ajasih gimana menginterpretasikannya. Postingan kali ini saya buat berdasarkan riset penuh rasa sok tahu dan pengalaman berbincang dengan beberapa teman yang pernah punya seseorang yang sangat berarti dalam hidup mereka, dan kini entah dimana si seseorang itu, atau tau sih si seseorang itu ada dimana dan sering stalking account sosial medianya gitu, cuma ya si seseorang itu udah gak “ditempatnya” lagi. Ihiks :’)

Berbicara soal tempat, iseng saya cari makna kata “tempat” dulu lah, biar postingan ini terkesan sedikit ilmiah karena ada risetnya ya…

Merujuk pada website KBBI, kata “tempat” memiliki delapan makna tergantung penggunaannya. Tempat/tem·pat/ n 1 sesuatu yang dipakai untuk menaruh (menyimpan, meletakkan, dan sebagainya); wadah; bekas: — obat; — tinta; 2 ruang yang tersedia untuk melakukan sesuatu: — belajar; — duduk; 3 ruang yang dipakai untuk menaruh: — pembuangan sampah; — sepeda; 4 ruang yang didiami (ditinggali) atau ditempati: — kediaman; — tinggal; 5 bagian yang tertentu dari suatu ruang : hal itu bergantung pada waktu dan — nya; 6 negeri (kota, desa, daerah, dan sebagainya): di beberapa — dapat ditanam anggur; 7 sesuatu yang dapat (dipercaya) menampung (tentang isi hati, keluhan, pertanyaan, dan sebagainya): sehari-harian sayalah — ia berbicara dan berunding; — berkata; 8 kedudukan; keadaan; letak (sesuatu): di kantor itu ia sudah mendapat — yang baik; tidak pada — nya, tidak sesuai dengan keadaannya; tidak pantas;

Apabila membaca penjelasan diatas, rasa-rasanya definisi nomer empat dan nomer tujuh paling kece dan cocok untuk semua definisi menye-menye.

“Semua orang punya tempat untuk seseorang di hati mereka” kata mutiara ini pasti diam-diam diamini sama yang baca. Lantas jadi keinget deh itu hati udah pernah ditempatin siapa aja, atau malah sampai sekarang masih ada penumpang gelapnya, mungkin.

Terus jadi intinya postingan ini mau ngomongin apa??? Ah, bingung juga….. berhenti nulis aja apa ya… Ah tapi jangan, udah terlalu banyak hal yang saya mulai dan tidak pernah terselesaikan di dunia ini, dan tulisan ini tidak akan jadi salah satunya. Jadi……… intinya kita sebagai manusia, patutnya paham bahwa setiap kita punya peranan masing-masing dalam hidup, baik itu hidup kita sendiri atau hidupnya orang lain. Dari itu, hedaklah kita maklum jika ternyata kita bukan satu-satunya orang yang ada di hati pasangan, pacar, kekasih atau apalah sebutan yang kamu sematkan untuk orang yang sering bikin perasaan kamu berbunga-bunga dan membuat kamu senang untuk sekedar berada di dekat dia. Cieeeeeeeee.

Banyak cerita dari teman-teman saya, bahwa mereka punya seseorang yang masih numpang di hati mereka meskipun sekarang mereka punya pasangan lain. Wajar lah, namanya juga manusia. Toh dari lahir kita udah diajarkan untuk membagi cinta dan kasih sayang pada lebih dari satu orang. Eits ntar dulu, bukan maksudnya bagi-bagi kasih sayang macem selingkuh gitu, bukan…. tapi dari kecil, kita kan sudah diajarkan untuk sayang sama ayah, ibu, serta saudara-saudara kita. Terus gimana caranya pas udah gede dan ngerti romansa kita bisa cuma cinta sama satu orang aja?  Kalo yang gak setuju, mending nonton dulu film yang judulnya “Before We Go” yang diperankan dan disutradarai Chris Evans. Tentang apa? nonton ajalah, saya gak mau cerita.

Intinya, mungkin gak sih kita mencintai lebih dari satu orang dalam saat yang bersamaan?? MUNGKIN BANGET. Ya, jawaban saya yang udah denger cerita beberapa pihak dan udah nonton film “Before We Go” dan juga udah (ehem) sedikit belajar dari pengalaman, ya nyatanya mungkin aja kita sayang atau cinta sama beberapa orang (diluar keluarga) secara bersamaan. Namun dalam perjalanannya, kita belajar bahwa cinta yang banyak tidak melulu baik, bahkan gak jarang menyakitkan bagi beberapa orang. Dari itulah kawan-kawan, ada yang disebut komitmen. Apa?? ko-mit-men, bro….

….ko-mit-men!

Saya juga gak terlalu paham dan agak ngeri sama kata yang satu itu sih, karena satu-satunya komitmen yang sampai sekarang saya bisa jalani adalah untuk selalu bahagiakan ayah dan ibu juga diri sendiri.Udah, itu aja.

Ah, jadi saya gak capable ya untuk menulis lanjutan artikel sok menasehati ini. Yasudah sampai disini saja. Sampai jumpa di postingan berikutnya yang entah kapan akan ada.