Kenapa iya, kenapa dia.

“Kenapa akhirnya mau menikah?”

“Bukannya dulu lo bilang gak mau nikah ya?”

“Ah yang bener?? sama siapa?”

“Yakin lo? emangnya lo punya pacar?!”

“Finally! i’m glad that you change your mind”

Diatas adalah rangkuman dari beberapa kalimat yang dilontarkan teman-teman saya ketika saya bercerita bahwa saya punya rencana untuk menikah, atau mereka yang heran karena temannya ini kan gak pernah posting sesuatu di sosial media yang mengindikasikan dia punya seseorang spesial macem martabak keju bertabur remahan oreo. Bingung jawabnya gimana, lebih bingung lagi untuk menceritakannya, sebenarnya. Tapi kebingungan itu membuat saya berpikir, mungkin ada baiknya hal ini dielaborasi dalam bentuk tulisan. Sekalian juga update postingan blog yang udah lama terlantar. Emang males aja sih anaknya. Kalopun gak ada yang baca, setidaknya bisa jadi pengingat saya. Penanda waktu bahwa dalam suatu masa di hidup saya, saya pernah berpikir seperti ini dan seperti itu. Oke, mari kita mulai.

Kenapa”iya” mungkin adalah hal yang akan saya bahas terlebih dulu. Kenapa iya. kenapa ya? kenapa akhirnya iya?

Ya…. karena “iya” aja. Hahahaha

Mungkin ini berkaitan erat dengan kenapa “dia”. Mungkin kalau bukan “dia”, tidak akan ada “iya”. Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Kenapa iya; karena dengan dia, sejak awal saya tidak pernah merasa bingung harus bagaimana, harus bicara apa, musti terlihat seperti siapa, enaknya bersikap kayak apa. Saya menjadi saya apa adanya, dan saya tidak pernah takut nantinya dia akan berpikir apa tentang saya.

Karena setiap bersama dia, saya tidak pernah merasakan perasaan bergejolak, deg-deg-an atau apa yang disebut orang-orang barat sebagai “butterfly in my stomach” gitu deh. Karena saat berbincang dengan dia, rasanya seperti bertemu teman lama yang belum pernah saya kenal sebelumnya, tapi entah kenapa mendadak akrab dan nyambung aja gitu deh ya.

Karena saya rasa dia bisa diajak kerjasama. Karena saya percaya bahwa dia bisa dipercaya. Karena Tuhan… mungkin memang mendesain ini sedemikian rupa. Tsaelah, alasan terakhir udah pamungkas deh kayaknya. Hahahaha.

Saya pernah sedemikian skeptis pada relasi romantis umat manusia mulai dari pacaran sampai pernikahan. “Buat apa?” pikir saya.

Saya pernah (Sampai sekarang masih juga sih) jijik setengah mati dengan postingan sosial media mereka-mereka yang terlalu sering mengumbar kemesraan dengan pacarnya, lantas tak berapa lama kemudian, berganti objek. Ya, berganti pacar. Postingan manja penuh cinta mendadak berganti kegalauan tiada tara, kemudian berganti lagi, dengan postingan cinta-cinta-an lainnya, dengan manusia berbeda. Waw! amazing. Ah, tapi saya emang nyinyir aja sih. Etapi apa mereka gak malu ya? hm… atau sedih gitu?

Oh iya, ada penelitiannya lho. Mereka yang kerap mengumbar segala sesuatu tentang pasangannya di sosial media sesungguhnya adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri atau self esteem rendah. COBA CEK DISINI, KLIK AJA LINK INI.

Eh ada lagi artikel penelitian seputar mereka yang oversharing kemesraan atau apapun tentang relasi romantisnya di sosial media. Saya listing aja ya :

  1. Couples oversharing on social media do so to mask relationship insecurities
  2. Here’s why happy couples post less about their relationships on social media

  3. Smug couples who post selfies on social media are more likely to be unhappy and insecure

Lho, postingan ini semestinya kan berisi ribuan alasan dan kalimat romantis tentang kenapa saya akhirnya mau menikah. Kok malah nyinyiran aja isinya. Begini, setelah saya pikir, alangkah lebih baik kalo saya membuat tulisan yang informatif dan bisa membantu banyak orang (untuk gak oversharing romantis di media sosial dan juga memandang rendah mereka-mereka yang memilih untuk tidak/ belum punya object of affection) dengan ngasih tiga link artikel diatas. Semoga berguna, dan doakan saya ya. Saya juga doakan kamu yang baik-baik. Beneran deh.

Advertisements

Let’s agree to disagree

Setuju untuk tidak setuju atau sikap terbuka pada hal-hal yang berbeda dari apa yang kita percayai maupun yakini nampaknya masih sulit diterapkan di negeri ini. Contohnya sering saya temukan di kehidupan sehari-hari. Entah di kantor, jalanan, kelas-kelas, maupun televisi. Seolah jika ada yang tidak setuju atau mengikuti “budaya” yang sudah membiasa, adalah salah. Susah.

Menjadi susah karena saat kita belum setuju untuk tidak setuju, potensi konflik dari relasi manusiawi semakin tinggi. Mereka yang lebih dahulu makan asam garam dan berpengalaman kerap merasa pandangannya adalah hal yang paling absolut. Lantas mereka yang membawa pandangan perubahan, yang menjadi lawan, menilai keabsolutan si pendahulu sudah usang . Berganti kenyataan baru, hal lain yang lebih relevan, dengan jaman maupun masyarakat yang ada sekarang, namum menggunakan penyampaian yang “agak tidak atau belum bisa diterima” oleh kelompok lainnya.

Setuju untuk tidak setuju dan menjadi terbuka pada argumentasi lain yang berbeda padangan terasa cukup melelahkan memang. Apalagi kalau, pada praktiknya, ketika berdebat (atau bisa juga dibilang berdiskusi) kita cenderung menggunakan emosi alih-alih logika, dan lebih parah lagi, melakukan penyerangan (atau pembelaan) dengan argumentum ad hominem. Waduh, apa lagi ya itu?

Argumentum ad hominem adalah cara berdebat yang menyerang pribadi lawan debat secara langsung, bukan argumennya. Shoot the messenger, not the message. Hal ini, seringnya membuat sebuah perdebatan konstruktif menjadi debat kusir yang penuh retorika.

Penalaran ad hominem dalam ilmu filasafat dinilai sebagai kesesatan logika atau logical fallacy karena kerap tidak relevan dengan apa yang sebenarnya sedang dibahas atau diperdebatkan. Contohnya…. hm…. ketika debat paslon gubernur DKI Jakarta… ah jangan ini deh, nanti panjang urusannya (tapi saya sangat berharap kawan-kawan menelaah lagi debat kandidat cagub cawagub DKI, sungguh. Banyak sekali argumentum ad hominem disana, sumpah).

Baiklah, contoh sederhana. Ketika berdebat tentang seni, lukisan misalnya,  kita menilai lukisan Van Gogh adalah buruk karena perilaku sang maestro yang kerap nyeleneh baik dalam kehidupan maupun ketika mengerjakan karyanya. Apa saja nyelenehnya? coba klik tautan ini, supaya kita punya intertekstualitas yang sama. Lukisan Van Gogh adalah buruk karena perilaku Van Gogh tidak bisa dibilang baik ataupun “normal”. Relevan, tidak?

van gogh starry night
Lukisan bertajuk “Starry Night” karya Vincent Van Gogh. Buruk, kah?

Contoh lain kesesatan logika yang berisi argumentum ad hominem : “karena seseorang adalah murid/ junior/ masih muda maka semua argumennya salah”. Dengan kesesatan logika (yang banyak terjadi dimana-mana) maka emosi jiwa yang berkuasa. Salah, semua yang beda adalah salah.

Ya, begitulah kira-kira. Gejala argumentum ad hominem seperti ini menghalangi kita untuk belajar jujur mencari sebab suatu masalah. Dalam argumentum ad hominem, ukuran kebenaran yang digunakan adalah penilaian terhadap orang yang menyampaikan pernyataan atau argumentasi.

Secara sederhana, argumentum ad hominem muncul saat ada keinginan untuk menang.  Saat dimana seseorang tidak bisa menerima kenyataan sehingga akhirnya mencari-cari subjek lain untuk dipersalahkan.

Jalan tengah yang baik untuk hal ini, menurut saya, adalah dengan selalu berusaha mengidentifikasi persoalan dan mencari kejelasan tentang apa sebenarnya yang dipermasalahkan, sambil juga menyadari bahwa adalah wajar dan bukan sesuatu yang harus dipersalahkan jika individu lain memiliki sudut pandang berbeda dengan kita. Ah, damai nian pasti rasanya kalau saja manusia dapat menerapkan hal tadi itu dalam kehidupan yang penuh dialog ini. Ketidaksetujuan tanpa konflik mungkin masih sulit, tapi bukanlah hal yang tidak mungkin.

Dalam hidup, selain sering bertemu dengan kondisi argumentum ad hominem, saya juga masih sering menerapkannya. Tulisan ini menjadi pengingat, bahwa saya pernah sejenak sadar bahwa dalam perdebatan, bukan siapa benar atau salah yang paling utama, melainkan bagaimana dua (atau lebih) pendapat dapat menemukan titik equlibrium yang lantas menyelesaikan masalah, bukan malah menambah.

Belajar berbeda, belajar menerima, belajar bersama.

Let’s agree to disagree, shall we?

Suaramu gak bagus saat bernyanyi? googling frasa ini : Congenital Amusia

Dalam perjalanan hidup, saya beberapa kali dipertemukan dengan teman yang bersuara indah ketika menyanyi. Sebagai seseorang yang sangat menyukai musik dan nyanyian, tentu saya super kagum dengan kemampuan teman-teman saya ini. Bahkan saya mengidolakan beberapa diantara mereka, meskipun mereka bukan penyanyi terkenal. Mereka teman saya dan suaranya bagus, sangat bagus. Yah, paling tidak bisa membuat saya merasakan emosi yang sedemikian syahdu ketika mendengar mereka bernyanyi.

Tidak jarang, saya dan pikiran saya yang sederhana bertanya “Kok bisa ya ada orang bisa nyanyi dengan suara bagus begitu, dan ada juga orang yang gak bisa nyanyi sama sekali? kenapa? kenapa? kenapaaaa????”

Pikiran itu adalah campuran heran dan rasa tidak terima. Karena saya masuk kategori kedua, mereka yang tidak bisa bersuara merdu ataupun bagus ketika menyanyi. “Elu kan penyiar radio, masa gak bisa nyanyi?” tanya seorang kawan beberapa tahun lalu, ketika saya masih bekerja di salah satu stasiun radio di Jakarta. Jawaban dari pertanyaan itupun saya tidak tahu, ketika itu.

Beberapa tahun berlalu, barulah saya tahu, dari seorang teman lain, yang kebetulan berprofesi sebagai video editor di Metro TV sekaligus guru musik paruh waktu di salah satu sekolah gitar kenamaan. “Elu buta nada! masa nada do sama re aja gak bisa bedain…”

Begitu katanya, untuk meyakinkan saya, sang teman mengunduh aplikasi guitar tuner yang biasa digunakan untuk mengatur suara senar-senar gitar. Dimintanya saya untuk mengeluarkan nada do-re-mi-hingga do tinggi, kemudian kami bersama melihat indikator yang ditampilkan si aplikasi gitar tunner tersebut. Alhasil, nada apa yang saya produksi dari mulut ini, nyatanya tidak dibaca demikian oleh si aplikasi. Nada do rendah saya, dibaca sebagai mi, kemudian dari itu tidak lantas naik ke nada fa, tapi malah menurun. Kacau, amburadul. Saya buta nada, titik.

Bertahun setelahnya, saya mendapati sebuah artikel tentang penelitian psikolog spesialis kognisi musik,  Professor Bill Thomson dari Macquire University Australia,  yang menyebut bahwa….. pada dasarnya orang yang menderita buta nada memiliki kondisi yang disebut congenital amusia, yang membuat mereka sulit untuk menyanyi dengan nada yang benar. Hah?! Conge?? budeg gitu maksudnya yak?? Eits bukan gitu, jadi Congenital amusia ini katanya sih disebabkan kesalahan pada otak dalam membedakan antara perbedaan kecil dalam tinggi nada. (Alhamdulillah, bukan disebabkan karena tersumbatnya indera pendengar oleh sesuatu gitu yak hehehe).

Tapi pada beberapa orang masalah sebenarnya ada pada ketidaksambungan antara bagian-bagian otak yang mengambil suara dan bagian dari otak yang memahaminya. Amusia adalah gangguan dalam memproduksi dan mendengarkan tinggi nada, karena kan kita harus mendengar terlebih dahulu untuk kemudian dapat memproduksi suara yang benar atau mirip degan yang dicontohkan.

Faktor genetika juga ternyata bisa menjadi alasan kenapa seseorang buta nada sehingga tidak bisa memproduksi suara yang ciamik ketika bernyanyi.  Jadi katanya, otak manusia bersifat “plastis” alias mudah dibentuk, sehingga interaksi penting antara gen dan lingkungan bisa membantu menentukan kemampuan kita bernyanyi.

Menurut penelitian, terpapar musik di tahun-tahun awal kehidupan dan didorong untuk menyanyi adalah hal penting dalam pengembangan bakat menyanyi seseorang. Contoh lainnya adalah, apa yang terjadi pada kebanyakan mahluk hidup, misalnya, burung gagak. “Burung gagak belajar menyanyi dengan meniru induk mereka,” begitu menurut penelitian dari University of Canberra. Sehingga, kalau seorang anak sejak bayi dipertemukan dengan orang tua atau guru yang pandai bernyanyi, maka sang anak akan meniru dan belajar bagaimana cara menyanyi yang apik.

Baiklah, sekarang saya tahu siapa yang harus saya salahkan. Mama dan papa, terimakasih ya… :”)

Namun demikian, mungkin memang di dunia ini ada manusia-manusia yang diciptakan untuk pandai bernyanyi, jago menari, lihai berenang, lincah mengendarai sepeda motor, atau mahir merangkai kata untuk pidato atau sekedar disusun dalam sebuah tulisan yang menarik. Sayangnya saya bukan termasuk kategori manapun dari orang-orang yang saya sebutkan tadi. Jadi, saya bisa apa dong? Saya… bisa menerima dengan ikhlas keadaan ini. Itu saya sudah cukup, bukan?

Kalimat

“Saya sayang kamu, …..” adalah kalimat yang sering saya gunakan untuk meyakinkan teman-teman saya betapa berartinya mereka dalam hidup ini. Dalam hidup saya dan dalam kehidupan mereka sendiri. Kadang manusia memang harus selalu diingatkan tetang makna keberadaan mereka di dunia.

Kalimat “Saya sayang kamu” ke teman-teman ini adalah kalimat yang saya lontarkan sepenuh hati karena memang saya sayang pada mereka. Namun lebih dari itu, kalimat itu saya ucap sambil berdoa agar teman-teman saya itu diberi kekuatan menghadapi apapun rintangan dalam hidupnya. Ya, seringnya kalimat “saya sayang kamu” jadi mantra mujarab saya untuk menenangkan teman-teman saya. Sekaligus pengingat kalau mereka memang berharga. Karena, sekali lagi saya ulangi, manusia sering selalu harus diingatkan lagi dan lagi soal berartinya mereka di dunia ini.

Dari sekian banyak “Saya sayang kamu” yang pernah keluar dari mulut saya, beberapa diantaranya bukan saya ucap untuk menenangkan lawan bicara, namun untuk menenangkan jiwa saya, saya sendiri.

Seperti kalimat “Kakak sayang papa” atau “Kakak sayang mama” dan “Kakak sayang Iko” yang pernah saya ungkapkan kepada Papa, Mama dan Adik saya. Saya ingat, moment ketika saya mengucapkan kalimat itu kepada mereka, di tempat terpisah, di waktu yang tidak bersamaan.

“Kakak sayang Papa,” saya ucapkan ketika papa saya akhirnya mengijinkan saya untuk memilih pilihan hidup saya sendiri, pilihan yang awalnya dinilai tidak begitu baik oleh Papa. Saya berucap demikian sambil memantapkan diri untuk membuktikan bahwa pilihan saya ini akan baik, sebaik yang saya percayai.

“Kakak sayang Mama,” saya ucapkan sambil menangis dan memeluk mama ketika saya sadar bahwa ada kelakuan atau perkataan yang tidak sepantasnya dari saya pada Mama. Kalimat ini saya ucap sambil menyesal, dan berharap mama memaafkan saya, yang ternyata akan selalu memaafkan sekalipun saya tidak bilang sayang.

“Kakak sayang Iko,” saya ucapkan tahun 2015, saat adik saya menangis di ujung telepon sambil menceritakan betapa sakit hatinya karena suatu hal yang enggan saya ceritakan di postingan ini. Tapi ketika itu, saya seperti bisa merasakan sendiri sakit hati yang dirasakan oleh adik saya. Menenangkan diri, saya sebut kalimat ajaib tadi.

Sekitar tahun 2007, saya juga pernah berujar “Saya sayang kamu” pada seorang teman, ketika itu saya merasa butuh berkata demikian karena saya harus menenangkan diri saya, menghadapi kenyataan bahwa teman ini akan pergi jauh. Perpisahan yang lama meski bukan selamanya.

Hari ini, kalimat “Saya sayang kamu” terlontar lagi dari mulut saya untuk seorang teman. Entah kenapa saya berkata demikian, rasanya ingin saja. Tanpa peduli apa yang akan dilakukan atau dirasakan oleh sang teman. Karena ini bukan soal dia, tapi soal saya. Egois. Memang. Karena saya berujar “Saya sayang kamu” bukan maksud untuk menyadarkannya bahwa rasa itu ada di hati saya, tapi karena saya tiba-tiba ingin berujar saja. Saya tiba-tiba merasa perlu, mengucap kalimat demikian ke teman itu. Duh, padahal sudah saya coba untuk tidak bilang…. Saya sudah coba tahan-tahan.

Lantas saya teringat perbincangan telepon ketika si teman itu pernah mengucapkan kalimat yang kurang lebih sama, beberapa waktu lalu. Cukup lama, lebih dari hitungan minggu. Ketika itu saya menjawab “Saya nyaman bersama kamu” tanpa merasa perlu membalas “Saya juga sayang kamu.” Jahat ya, tapi mau bagaimana, sayang itu kan dirasa. Mengucapkannya perlu hal lain, tak hanya perasaan saja. Jadi ketika itu, dengan pertimbangan yang saya punya, saya jawab “Ya, sejauh ini saya nyaman bersama kamu.”

“Saya sayang kamu” hanyalah sebuah kalimat tunggal yang terdiri dari kata benda satu, kata kerja, dan kata benda dua. Selanjutnya kata benda satu dapat kita sebut subjek, dan kata benda dua kita kenal sebagai objek. Begitu, kalau penjelasan guru bahasa Indonesia jaman saya sekolah dulu.

Nyaris saja tulisan ini urung saya terbitkan dan ingin saya hapus karena malu. Bagaimana kalau ada yang baca? ah, tidak banyak orang yang tahu blog saya ini. Bagaimana kalau ada yang menilai saya terlalu mendayu? wah iya, saya kan harus terlihat kuat tegar dan bersahaja. Tapi, ah, biarkan saja. Bagaimana kalau teman itu yang membaca? Nah! itu salah satu kekhawatiran terbesar saya. Tapi saya rasa tidak dalam waktu dekat dia akan membaca tulisan ini. Mungkin nanti, dalam hitungan bulan, atau lebih dari itu. Semua “bagaimana kalau…” luluh dengan keegoisan saya untuk menerbitkan tulisan ini. Keegoisan yang membiarkan tulisan ini menjadi penanda waktu, bahwa saya pernah bilang “Saya sayang kamu.” Jadi paling tidak, kalaupun cerita tidak sesuai dengan harapan nantinya, kamu atau saya tidak perlu khawatir, karena saya sudah mempersiapkan kalimat “Saya pernah sayang kamu”. Dan ini, penanda waktu itu.

Duh sok manis banget idupnya. Besok kita makan pare yak, biar gak diabetes!

Can i be close to you?

Biar sedikit ada postingan sok galau ala-ala adik SMA maka saya posting saja video musik berikut ini. Sekalian deh saya sertakan liriknya, biar kamu yang baca ikutan nyanyi atau lebih lagi, ikutan terbawa suasananya.

“Bloom”

In the morning when I wake
And the sun is coming through,
Oh, you fill my lungs with sweetness,
And you fill my head with you.
Shall I write it in a letter?
Shall I try to get it down?
Oh, you fill my head with pieces
Of a song I can’t get out.
Can I be close to you?
Oh-oh-oh-ooh, ooh
Can I be close to you?
Ooh, ooh.
Can I take it to a moment
Where the fields are painted gold
And the trees are filled with memories
Of the feelings never told?
When the evening pulls the sun down,
And the day is almost through,
Oh, the whole world it is sleeping,
But my world is you.
Can I be close to you??

Berpikir jauh kedepan

Sally nama gadis itu, dia memutuskan untuk selalu berpikir kedepan. Bukan untuk merancang bagaimana kehidupan kelak, tapi semata agar hidupnya tidak terlalu pekak karena suara-suara di pikirannya. Suara bising, membisikkan aneka jenis pikiran, dari kepalanya sendiri. Hanya dia saja.

time-running-out

Sejak duduk di bangku SMP, Sally selalu merasa bahwa tubuhnya lebih besar dari teman-teman perempuan yang seusianya. Ketika SMA, perasaan yang sama masih juga ada di benak Sally. Pun begitu ketika Sally duduk di bangku kuliah. “Duh, gue gendut banget deh…” Sally membatin setiap kali usai berselfie atau sekedar foto bersama dengan kawan-kawannya.

Waktu berlalu, Sally kini sudah berusia 25 tahun. Melihat kembali foto-foto kenangan ketika Sally berkuliah, segaris senyum terlukis di wajahnya. “Wah, ternyata gue kurus ya pas kuliah. Sekarang gue gendut banget…”

Membalik album kenangan, perhatian Sally terpaku pada foto yang mengabadikan momen ulang tahun sahabatnya kala SMA. Di foto itu Sally mengenakan kemeja bermotif bunga-bunga berwarna kuning dengan campuran jingga, dipadu celana jeans model cutbray yang ketika itu sedang sangat populer di kalangan remaja. “Gilak, pas SMA gue sekurus ini tho… sama lah sama anak-anak perempuan lainnya..”

Satu lagi foto yang menarik mata Sally. Gambar lima bocah berseragam putih biru yang sedang bergaya di lapangan sekolah. Sally kenal sekali dengan gadis kecil yang tersenyum sumringah, sambil menenteng jajanan favoritnya, cimol bumbu keju balado. “Ck..ck..ck.. pas SMP ternyata gue gak gede-gede banget ya. Kok dulu gue mikirnya gue paling gede diantara anak perempuan lain. Mereka kurus dan gue gendut… tapi kalo sekarang gue liat di foto ini. Sama ah ukuran badannya…”

Melihat kembali kenangan masa lalu membuat Sally terpaku. Sally sadar bahwa betapa selama ini pikirannya telah banyak membohongi Sally. Tentang bagaimana sang pikiran membuat Sally merasa selama ini bobot badannya lebih berat dibandingkan kawan sebaya. Tentang kelakuan pikirannya yang membuat Sally percaya bahwa Bagas, mantan pacarnya ketika SMP adalah lelaki yang baik dan penyayang serta setia. Bahwa ketika Sally dan Bagas putus saat SMA karena Sally mendapati Bagas selingkuh dengan teman Les nya, adalah kesalahan Sally, karena Sally sibuk dengan segudang ekskul yang diikutinya. Pikirannya juga pernah membuat Sally percaya bahwa tidak ada lelaki lain yang lebih baik, penyanyang, perhatian dan layak untuk dicintai selain Bagas.

Belasan tahun kemudian, Sally yang kini berusia 25 tahun hanya bisa tersenyum. Kadang pula tertawa, mengingat kembali bagaimana pikirannya membodohinya. Sally yang berusia 25 tahun belajar banyak, tersadar bahwa dia semestinya berpikir jauh kedepan.

Bahwa semuanya akan berlalu, dan segala cerita sial maupun kesedihan suatu saat akan menjadi bahan bercandaan yang lucu. Hidup itu lucu. Selucu anak SMP yang selalu merasa tubuhnya gemuk, padahal ukuran bajunya ketika itu adalah “S”. Hidup itu lucu. Selucu anak SMA yang baru merasakan cinta monyet dan perpikir itu adalah cinta terakhirnya.

Hidup itu lucu, selucu gadis 25 tahun yang kebingungan tentang apa yang harus dia lakukan di dalam hidupnya.Setidaknya cerita ini akan menjadi lucu, ketika sang gadis sudah menginjak usia 30 tahun, atau ketika dia sudah bertemu dengan tujuannya.

Sampai saat itu tiba, ingat saja…. berpikirlah jauh kedepan. Bukan untuk berencana, tapi untuk percaya bahwa semuanya akan lucu pada waktunya. Ah, nanti juga semuanya akan baik-baik saja.

Jakarta, 23 Maret 2017. 3:27 AM. Ditulis oleh manusia yang mendadak ingin menulis tapi tidak tahu ingin menulis apa, manusia yang harusnya tidur dan beristirahat, namun belum tahun bagaimana caranya.

Sedang tidak ingin sendiri

Ada kalanya saya tidak ingin sendirian, seperti saat ini.

Selama ini buat saya, menunggu itu menyenangkan, namun menunggu dengan berteman ekspektasi ternyata mengerikan. 

Saya sedang tidak ingin sendirian, karena ekspektasi ini menakutkan. 

Saya sedang tidak ingin sendirian, karena harapan indah ini sebentar lagi berkesudahan. 9 September 2016, bisa jadi awal, ya, pasti jadi awal. Karena saya belum mau usai.

Kalaupun kenyataan nanti tidak sesuai ekspektasi, setidaknya saya masih bisa coba lagi.

Tapi saat ini, saya tidak ingin sendiri. Saya putuskan untuk menulis keinginan itu di blog ini, supaya apapun yang terjadi nanti, bagaimanapun ekspektasi mewujud nanti, saya akan ingat bahwa saya pernah melalui momen ini. Waktu dimana saya tidak ingin sendiri.

Ada yang bilang, kalau mimpimu tidak membuat kamu takut, berarti mimpi itu tidak besar.

Ya, saya takut. Karena mimpi ini sebesar itu. Mimpi yang pernah hadir dalam tidur saya dan rasanya sangaaaaaat nyata. Entah saya siap atau tidak, tapi saya sudah mencoba. Saya sudah jalan, dan tinggal menunggu saja waktunya.

Saya takut, seperti tikus yang gundah ketika ingin menyebrang jalan. Nyebrang, jangan, nyebrang, jangan, nyebrang….. Tapi harus liat kiri kanan.

Kalau tidak, nanti dilindas roda kendaraan.

Sekian. Selamat menunggu, selamat tidak ingin sendirian!