Why can’t we be nicer to each other?

Pertanyaan dalam bahasa Inggris yang saya jadikan judul di atas adalah sekelebat pikiran yang sering muncul tiap kali saya mendapat kebaikan dari orang-orang di perantauan ini. Sering muncul, karena Alhamdulillah disini saya sering dipertemukan dengan orang-orang yang baik.

“Why can’t we be nicer to each other?” ini saya tujukan utamanya pada teman-teman saya di tanah air. Kenapa sih kita gak bisa bersikap lebih baik pada satu-sama lain? Kenapa saya menilai kita kurang bersikap baik pada satu sama lain?  Untuk menjawab pertanyaan pertama saya kurang paham gimana caranya, tapi pertanyaan kedua bisa saya jawab dengan beberapa penjelasan subjektif yang berasal dari pegalaman pribadi saya dicampur perbandingan yang saya lakukan.

Baik tidak melulu harus jadi jujur, rajin membantu dan menolong, baik itu bisa sesederhana membuat orang lain bahagia dengan cara yang paling sederhana, dengan senyuman atau kata-kata. Inilah yang sering saya temui di negerinya ratu Victoria ini!

Saya pernah ikut membantu penggalangan dana di kampus dengan cara berjualan kue, kegiatan ini tidaklah mudah karena ternyata meskipun hasil penjualan kue ini buat amal, cukup jarang juga orang yang mau langsung beli kue-kue yang saya jajakan. Salah satu penolakan yang sangat berkesan buat saya adalah penolakan yang dilakukan seorang perempuan paruh baya dari ras anglo saxon. Tau apa kalimat penolakannya? begini kurang lebih yang bisa saya ingat : ” Wow, it’s really good that you guys selling these cakes for charity and i really want to help. But unfortunately i bring no cash to buy the cakes, i will surely tell my friends to come over and buy your cakes! Is that alright?”

Meskipun saya tau itu cuma basa-basi, tapi saya sangat menghargai cara penolakan perempuan tadi. Baik aja gitu, she rejects with a nice attitute. Rata-rata orang disini menolak pakai kalimat sih, gak cuma melambaikan tangan terus melengos pergi begitu aja seperti yang sering terjadi di Jakarta.

 

IMG_20170925_115655
Unilink Bus, salah satu bus yang beroperasi di Southampton

Kali lain, saya pernah turun dari bis kota. Nah, di kota Southampton tempat saya tinggal ini,  para penumpangnya sering meneriakkan “thank you!” kepada si sopir sebelum turun dari bis. Jawaban dari para sopir ini bervariasi, mulai dari sekedar “Cheers!” atau “No worries!” sampai yang paling membuat saya tersenyum sendiri adalah : “Cheers mate! enjoy the rest of your day!” sempet aja gitu, mengucapkan kata-kata manis buat penumpangnya. Padahal bisa aja si penumpang yang dibalas ucapannya itu udah turun dan gak denger. Tapi untungnya ada saya yang masih di dalam bis dan mendengarnya, dan jadi legaaaaa gitu rasa hati saya. Geli juga sih, karena ketika momen itu, saya langsung inget abang-abang sopir metromini dan kopaja yang boro-boro berkata manis, penumpang belum menginjakkan kaki di aspal ketika turun aja dia udah tancap gas ngejar setoran. Tariiiiik, lae! :))

Suatu hari saya pulang dari kampus melewati lapangan sebuah sekolah dasar, kebetulan ketika itu pas jam istirahat dan lapangan ramai oleh anak-anak lelaki bermain bola. Semuanya ceria dan teriakan seru bersahut-sahutan sampai ada seorang anak yang tanpa sengaja kepalanya terkena bola yang ditendang temannya. Wajah sang anak yang kulitnya bule banget itu langsung menjadi merah, dengan kepala menunduk ke tanah, saya lihat dari gesture tangannya yang memegangi kepala, nampaknya bola cukup keras mengenai kepala.

Permainan bola pun terhenti, dan tanpa dikomando, semua teman bermain bola mendekat ke arah sang anak yang kena bola tadi. Gak cuma ngumpul untuk mengecek apakah temannya baik-baik saja, tapi anak-anak lain itu betul-betul memastikan kondisi temannya. “I’m Sorry, mate!” teriak seorang anak. “Are you oke? please tell me you are oke…” Sambut teman lain sambil mendekati si korban tendangan bola.

“Oh, we’re really sorry… can i see your head?” ucap teman lain yang langsung memeluk si korban, diikuti oleh teman-teman lain. Mendadak seluruh anak yang lagi main bola tadi membentuk formasi lingkaran dan berpelukan, dengan si korban tendangan bola berada di tengah. Pelukan se-berpelukan itu… ada yang sambil mengelus-elus pundak si korban, ada yang sambil pasang ekspresi sedih juga, pokoknya pelukan semua deh yang tadi maen bola.

“it’s oke, mate, it’s oke….” ucap beberapa teman menenangkan si korban dan pelaku, sambil tentunya berpelukan dan mengelus-elus pundak. Wah, heart warming banget lah ngeliatnya! Saya sampe mau terharu sekaligus nyegir juga sih, karena tiba-tiba ketika itu saya jadi ngebayanin anak Indonesia lagi main bola dan kejadian yang sama terjadi. Palingan teman-teman main bola cuma bisa bersorak “nah lo, nah lo, anak orang kena bola! nah lo, nah lo, anak orang dinangisin, nanti lapor bapaknya, elu diabisin!” dan meninggalkan seorang teman dengan rasa bersalah, seorang lainnya dengan rasa kesakitan, tanpa melakukan tindakan lain yang lebih berguna.

Kalau saya cerita semua akan panjang postingan kali ini, tapi saya tutup aja dengan satu cerita yang “ngena” banget sih kalo untuk saya. Tapi saya gak janji ceritanya akan singkat. Hahahaha.

Cerita ini ketika saya liputan Royal Wedding di Windsor Castle beberapa waktu lalu. Karena acara ini sedemikian spesial, maka kantor pun meminta saya juga mengenakan kostum yang gak kalah spesial. Salah satunya adalah topi centil ala-ala yang biasa dipakai orang Inggris kalo datang ke acara formal. Awalnya saya agak keberatan, karena gaya itu gak saya banget. Malu lah saya, rasanya aneh aja gitu kan. Tapi karena untuk memenuhi apa yang diminta kantor, maka saya pun setuju aja deh. Topi ala-ala ini baru saya pakai ketika saya sudah sampai di lokasi dan mendekati waktu live report (abis kan saya malu memakainya dari awal). Dengan usaha yang agak banyak karena tenyata susah ya pake topi ala-ala ini di atas jilbab, soalnya ternyata si topi ini di bawahnya ada semacam jepit rambut gitu, yang emang buat rambut, bukan buat ditempel di jilbab. Sayapun kudu cermat menambahkan peniti di sana-sini demi untuk si topi bertengger mantap di atas kepala saya.

Hap! topi centil ala-ala itu pun sudah terpasang. Saat saya masih sibuk berkaca di toilet, ada seorang remaja perempuan yang melewati saya, menuju ke salah satu bilik toilet. Sebelum sampai tujuannya, si dedek remaja ini berbalik arah menuju saya dan dengan cepat berucap “Wow! i love the way you dressed up. it’s pretty!”. Saya yang kaget sekaligus ge-er kebingungan harus bereaksi apa. Saya hanya bisa bilang “Thank you…” sambil nyengir kuda.

Seketika rasa pede saya bertambah. “Ternyata topi ini tidak semenggelikan itu ya” pikir saya setelah dipuji si adik di toilet tadi. Saya pun keluar dan menunggu waktu live di halaman Windsor Castle. Ternyata pujian yang saya dapatkan bukan cuma dari si adik di toilet tadi aja, beberapa orang memuji topi centil yang saya pakai itu.

“Nice accesorizing!” ucap salah satu embak-embak presenter tv. “Wow, lovely! i like your hat!” ucap orang lain. “You look pretty!” juga menjadi salah satu pujian yang saya dapatkan ketika itu. PEDE dong sayaaaa… ternyata, topi ini gak se malu-maluin itu.

 

 

HAHAHAHAHA

Kalo pada cerita-cerita diatas adalah saya MEMBAYANGKAN kejadian sebaliknya di Indonesia dari hal baik yang saya lihat atau dengar di Inggris ini, di cerita yang satu ini saya MERASAKAN langsung, tanpa sempat membayangkan.

Jadi setelah selesai saya live, beraneka komentar dari tanah air datang pada saya. Mulai dari whatsApp, hingga mention dan DM di instagram. Banyak yang bernada positif, tapi ada beberapa yang bernada negative dan justru, ini yang membekas sekali.

Dari sekelumit komentar negative itu, rata-rata tentang topi saya yang terlihat menggelikan alias riddiculous gitu. Ada yang bilang kayak konde kebalik lah, ada yang mengira burung jatuh lah, gak pantes lah dan lain-lain. Sedihnya, hal ini keluar dari orang-orang yang kenal saya. Bukan semata netizen antah berantah yang emang kadang suka nyinyir tanpa tedeng aling-aling.

Saya akui, saya sedih. Malu sekaligus entah kenapa agak kecewa juga sama diri sendiri. Komentar negative itu, sedemikian berdampak buat saya. Menyakitkan, iya. Saya lebay? mungkin. Atau mungkin juga saya agak kaget karena sedikit lupa bahwa di tanah air saya, orang-orang tidak se mudah itu mengeluarkan pujian dan kata-kata baik. Di negara saya, lebih keren rasanya kalau kita bisa mengeluarkan kata-kata sindiran yang tajam menyayat hati, akibat paparan sinetron yang sering menampilkan sosok tokoh perempuan keren, cantik, kaya raya, ketua geng, populer, tapi berkemampuan nyinyir luar biasya, labrak-labrakan jadi budaya.

Di negara saya, orang baru dinilai baik kalau mereka membantu. Entah dengan tenaga atau dengan harta. Di negara saya, sepertinya orang-orang belum banyak yang sadar kalau…. sekedar kata-kata baik juga sama (bahkan mungkin bisa lebih) menyenangkannya dengan bantuan harta atau tenaga.

Saya jadi ingat, saya juga termasuk orang yang suka nyinyir dan berkata pedas. Mulai saat ini saya mau mencoba menjadi sedikit lebih nice. Saya harap saya belum telat ya.

Sedikit langkah menjadi nice yang udah saya lakukan adalah dengan mengirim pesan positive pada postingan instastories beberapa teman saya, bahkan postingan yang paling membosankan sekalipun. Entah itu sekedar “Waaah, selamat ya!!” atau “Bagus bangeeeet!” yang ternyata menyenangkan rasanya. Pereus? basa-basi? Mungkin iya, tapi satu yang pasti, hati saya lebih bahagia melakukannya. Lebih lega aja rasanya.

Mohon maaf untuk semua pihak yang pernah saya sakiti secara secara verbal maupun visual atau medium yang lain. I promise to be nicer and we can be nicer together!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s