Kenapa iya, kenapa dia.

“Kenapa akhirnya mau menikah?”

“Bukannya dulu lo bilang gak mau nikah ya?”

“Ah yang bener?? sama siapa?”

“Yakin lo? emangnya lo punya pacar?!”

“Finally! i’m glad that you change your mind”

Diatas adalah rangkuman dari beberapa kalimat yang dilontarkan teman-teman saya ketika saya bercerita bahwa saya punya rencana untuk menikah, atau mereka yang heran karena temannya ini kan gak pernah posting sesuatu di sosial media yang mengindikasikan dia punya seseorang spesial macem martabak keju bertabur remahan oreo. Bingung jawabnya gimana, lebih bingung lagi untuk menceritakannya, sebenarnya. Tapi kebingungan itu membuat saya berpikir, mungkin ada baiknya hal ini dielaborasi dalam bentuk tulisan. Sekalian juga update postingan blog yang udah lama terlantar. Emang males aja sih anaknya. Kalopun gak ada yang baca, setidaknya bisa jadi pengingat saya. Penanda waktu bahwa dalam suatu masa di hidup saya, saya pernah berpikir seperti ini dan seperti itu. Oke, mari kita mulai.

Kenapa”iya” mungkin adalah hal yang akan saya bahas terlebih dulu. Kenapa iya. kenapa ya? kenapa akhirnya iya?

Ya…. karena “iya” aja. Hahahaha

Mungkin ini berkaitan erat dengan kenapa “dia”. Mungkin kalau bukan “dia”, tidak akan ada “iya”. Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Kenapa iya; karena dengan dia, sejak awal saya tidak pernah merasa bingung harus bagaimana, harus bicara apa, musti terlihat seperti siapa, enaknya bersikap kayak apa. Saya menjadi saya apa adanya, dan saya tidak pernah takut nantinya dia akan berpikir apa tentang saya.

Karena setiap bersama dia, saya tidak pernah merasakan perasaan bergejolak, deg-deg-an atau apa yang disebut orang-orang barat sebagai “butterfly in my stomach” gitu deh. Karena saat berbincang dengan dia, rasanya seperti bertemu teman lama yang belum pernah saya kenal sebelumnya, tapi entah kenapa mendadak akrab dan nyambung aja gitu deh ya.

Karena saya rasa dia bisa diajak kerjasama. Karena saya percaya bahwa dia bisa dipercaya. Karena Tuhan… mungkin memang mendesain ini sedemikian rupa. Tsaelah, alasan terakhir udah pamungkas deh kayaknya. Hahahaha.

Saya pernah sedemikian skeptis pada relasi romantis umat manusia mulai dari pacaran sampai pernikahan. “Buat apa?” pikir saya.

Saya pernah (Sampai sekarang masih juga sih) jijik setengah mati dengan postingan sosial media mereka-mereka yang terlalu sering mengumbar kemesraan dengan pacarnya, lantas tak berapa lama kemudian, berganti objek. Ya, berganti pacar. Postingan manja penuh cinta mendadak berganti kegalauan tiada tara, kemudian berganti lagi, dengan postingan cinta-cinta-an lainnya, dengan manusia berbeda. Waw! amazing. Ah, tapi saya emang nyinyir aja sih. Etapi apa mereka gak malu ya? hm… atau sedih gitu?

Oh iya, ada penelitiannya lho. Mereka yang kerap mengumbar segala sesuatu tentang pasangannya di sosial media sesungguhnya adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri atau self esteem rendah. COBA CEK DISINI, KLIK AJA LINK INI.

Eh ada lagi artikel penelitian seputar mereka yang oversharing kemesraan atau apapun tentang relasi romantisnya di sosial media. Saya listing aja ya :

  1. Couples oversharing on social media do so to mask relationship insecurities
  2. Here’s why happy couples post less about their relationships on social media

  3. Smug couples who post selfies on social media are more likely to be unhappy and insecure

Lho, postingan ini semestinya kan berisi ribuan alasan dan kalimat romantis tentang kenapa saya akhirnya mau menikah. Kok malah nyinyiran aja isinya. Begini, setelah saya pikir, alangkah lebih baik kalo saya membuat tulisan yang informatif dan bisa membantu banyak orang (untuk gak oversharing romantis di media sosial dan juga memandang rendah mereka-mereka yang memilih untuk tidak/ belum punya object of affection) dengan ngasih tiga link artikel diatas. Semoga berguna, dan doakan saya ya. Saya juga doakan kamu yang baik-baik. Beneran deh.