Let’s agree to disagree

Setuju untuk tidak setuju atau sikap terbuka pada hal-hal yang berbeda dari apa yang kita percayai maupun yakini nampaknya masih sulit diterapkan di negeri ini. Contohnya sering saya temukan di kehidupan sehari-hari. Entah di kantor, jalanan, kelas-kelas, maupun televisi. Seolah jika ada yang tidak setuju atau mengikuti “budaya” yang sudah membiasa, adalah salah. Susah.

Menjadi susah karena saat kita belum setuju untuk tidak setuju, potensi konflik dari relasi manusiawi semakin tinggi. Mereka yang lebih dahulu makan asam garam dan berpengalaman kerap merasa pandangannya adalah hal yang paling absolut. Lantas mereka yang membawa pandangan perubahan, yang menjadi lawan, menilai keabsolutan si pendahulu sudah usang . Berganti kenyataan baru, hal lain yang lebih relevan, dengan jaman maupun masyarakat yang ada sekarang, namum menggunakan penyampaian yang “agak tidak atau belum bisa diterima” oleh kelompok lainnya.

Setuju untuk tidak setuju dan menjadi terbuka pada argumentasi lain yang berbeda padangan terasa cukup melelahkan memang. Apalagi kalau, pada praktiknya, ketika berdebat (atau bisa juga dibilang berdiskusi) kita cenderung menggunakan emosi alih-alih logika, dan lebih parah lagi, melakukan penyerangan (atau pembelaan) dengan argumentum ad hominem. Waduh, apa lagi ya itu?

Argumentum ad hominem adalah cara berdebat yang menyerang pribadi lawan debat secara langsung, bukan argumennya. Shoot the messenger, not the message. Hal ini, seringnya membuat sebuah perdebatan konstruktif menjadi debat kusir yang penuh retorika.

Penalaran ad hominem dalam ilmu filasafat dinilai sebagai kesesatan logika atau logical fallacy karena kerap tidak relevan dengan apa yang sebenarnya sedang dibahas atau diperdebatkan. Contohnya…. hm…. ketika debat paslon gubernur DKI Jakarta… ah jangan ini deh, nanti panjang urusannya (tapi saya sangat berharap kawan-kawan menelaah lagi debat kandidat cagub cawagub DKI, sungguh. Banyak sekali argumentum ad hominem disana, sumpah).

Baiklah, contoh sederhana. Ketika berdebat tentang seni, lukisan misalnya,  kita menilai lukisan Van Gogh adalah buruk karena perilaku sang maestro yang kerap nyeleneh baik dalam kehidupan maupun ketika mengerjakan karyanya. Apa saja nyelenehnya? coba klik tautan ini, supaya kita punya intertekstualitas yang sama. Lukisan Van Gogh adalah buruk karena perilaku Van Gogh tidak bisa dibilang baik ataupun “normal”. Relevan, tidak?

van gogh starry night
Lukisan bertajuk “Starry Night” karya Vincent Van Gogh. Buruk, kah?

Contoh lain kesesatan logika yang berisi argumentum ad hominem : “karena seseorang adalah murid/ junior/ masih muda maka semua argumennya salah”. Dengan kesesatan logika (yang banyak terjadi dimana-mana) maka emosi jiwa yang berkuasa. Salah, semua yang beda adalah salah.

Ya, begitulah kira-kira. Gejala argumentum ad hominem seperti ini menghalangi kita untuk belajar jujur mencari sebab suatu masalah. Dalam argumentum ad hominem, ukuran kebenaran yang digunakan adalah penilaian terhadap orang yang menyampaikan pernyataan atau argumentasi.

Secara sederhana, argumentum ad hominem muncul saat ada keinginan untuk menang.  Saat dimana seseorang tidak bisa menerima kenyataan sehingga akhirnya mencari-cari subjek lain untuk dipersalahkan.

Jalan tengah yang baik untuk hal ini, menurut saya, adalah dengan selalu berusaha mengidentifikasi persoalan dan mencari kejelasan tentang apa sebenarnya yang dipermasalahkan, sambil juga menyadari bahwa adalah wajar dan bukan sesuatu yang harus dipersalahkan jika individu lain memiliki sudut pandang berbeda dengan kita. Ah, damai nian pasti rasanya kalau saja manusia dapat menerapkan hal tadi itu dalam kehidupan yang penuh dialog ini. Ketidaksetujuan tanpa konflik mungkin masih sulit, tapi bukanlah hal yang tidak mungkin.

Dalam hidup, selain sering bertemu dengan kondisi argumentum ad hominem, saya juga masih sering menerapkannya. Tulisan ini menjadi pengingat, bahwa saya pernah sejenak sadar bahwa dalam perdebatan, bukan siapa benar atau salah yang paling utama, melainkan bagaimana dua (atau lebih) pendapat dapat menemukan titik equlibrium yang lantas menyelesaikan masalah, bukan malah menambah.

Belajar berbeda, belajar menerima, belajar bersama.

Let’s agree to disagree, shall we?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s