Kalimat

“Saya sayang kamu, …..” adalah kalimat yang sering saya gunakan untuk meyakinkan teman-teman saya betapa berartinya mereka dalam hidup ini. Dalam hidup saya dan dalam kehidupan mereka sendiri. Kadang manusia memang harus selalu diingatkan tetang makna keberadaan mereka di dunia.

Kalimat “Saya sayang kamu” ke teman-teman ini adalah kalimat yang saya lontarkan sepenuh hati karena memang saya sayang pada mereka. Namun lebih dari itu, kalimat itu saya ucap sambil berdoa agar teman-teman saya itu diberi kekuatan menghadapi apapun rintangan dalam hidupnya. Ya, seringnya kalimat “saya sayang kamu” jadi mantra mujarab saya untuk menenangkan teman-teman saya. Sekaligus pengingat kalau mereka memang berharga. Karena, sekali lagi saya ulangi, manusia sering selalu harus diingatkan lagi dan lagi soal berartinya mereka di dunia ini.

Dari sekian banyak “Saya sayang kamu” yang pernah keluar dari mulut saya, beberapa diantaranya bukan saya ucap untuk menenangkan lawan bicara, namun untuk menenangkan jiwa saya, saya sendiri.

Seperti kalimat “Kakak sayang papa” atau “Kakak sayang mama” dan “Kakak sayang Iko” yang pernah saya ungkapkan kepada Papa, Mama dan Adik saya. Saya ingat, moment ketika saya mengucapkan kalimat itu kepada mereka, di tempat terpisah, di waktu yang tidak bersamaan.

“Kakak sayang Papa,” saya ucapkan ketika papa saya akhirnya mengijinkan saya untuk memilih pilihan hidup saya sendiri, pilihan yang awalnya dinilai tidak begitu baik oleh Papa. Saya berucap demikian sambil memantapkan diri untuk membuktikan bahwa pilihan saya ini akan baik, sebaik yang saya percayai.

“Kakak sayang Mama,” saya ucapkan sambil menangis dan memeluk mama ketika saya sadar bahwa ada kelakuan atau perkataan yang tidak sepantasnya dari saya pada Mama. Kalimat ini saya ucap sambil menyesal, dan berharap mama memaafkan saya, yang ternyata akan selalu memaafkan sekalipun saya tidak bilang sayang.

“Kakak sayang Iko,” saya ucapkan tahun 2015, saat adik saya menangis di ujung telepon sambil menceritakan betapa sakit hatinya karena suatu hal yang enggan saya ceritakan di postingan ini. Tapi ketika itu, saya seperti bisa merasakan sendiri sakit hati yang dirasakan oleh adik saya. Menenangkan diri, saya sebut kalimat ajaib tadi.

Sekitar tahun 2007, saya juga pernah berujar “Saya sayang kamu” pada seorang teman, ketika itu saya merasa butuh berkata demikian karena saya harus menenangkan diri saya, menghadapi kenyataan bahwa teman ini akan pergi jauh. Perpisahan yang lama meski bukan selamanya.

Hari ini, kalimat “Saya sayang kamu” terlontar lagi dari mulut saya untuk seorang teman. Entah kenapa saya berkata demikian, rasanya ingin saja. Tanpa peduli apa yang akan dilakukan atau dirasakan oleh sang teman. Karena ini bukan soal dia, tapi soal saya. Egois. Memang. Karena saya berujar “Saya sayang kamu” bukan maksud untuk menyadarkannya bahwa rasa itu ada di hati saya, tapi karena saya tiba-tiba ingin berujar saja. Saya tiba-tiba merasa perlu, mengucap kalimat demikian ke teman itu. Duh, padahal sudah saya coba untuk tidak bilang…. Saya sudah coba tahan-tahan.

Lantas saya teringat perbincangan telepon ketika si teman itu pernah mengucapkan kalimat yang kurang lebih sama, beberapa waktu lalu. Cukup lama, lebih dari hitungan minggu. Ketika itu saya menjawab “Saya nyaman bersama kamu” tanpa merasa perlu membalas “Saya juga sayang kamu.” Jahat ya, tapi mau bagaimana, sayang itu kan dirasa. Mengucapkannya perlu hal lain, tak hanya perasaan saja. Jadi ketika itu, dengan pertimbangan yang saya punya, saya jawab “Ya, sejauh ini saya nyaman bersama kamu.”

“Saya sayang kamu” hanyalah sebuah kalimat tunggal yang terdiri dari kata benda satu, kata kerja, dan kata benda dua. Selanjutnya kata benda satu dapat kita sebut subjek, dan kata benda dua kita kenal sebagai objek. Begitu, kalau penjelasan guru bahasa Indonesia jaman saya sekolah dulu.

Nyaris saja tulisan ini urung saya terbitkan dan ingin saya hapus karena malu. Bagaimana kalau ada yang baca? ah, tidak banyak orang yang tahu blog saya ini. Bagaimana kalau ada yang menilai saya terlalu mendayu? wah iya, saya kan harus terlihat kuat tegar dan bersahaja. Tapi, ah, biarkan saja. Bagaimana kalau teman itu yang membaca? Nah! itu salah satu kekhawatiran terbesar saya. Tapi saya rasa tidak dalam waktu dekat dia akan membaca tulisan ini. Mungkin nanti, dalam hitungan bulan, atau lebih dari itu. Semua “bagaimana kalau…” luluh dengan keegoisan saya untuk menerbitkan tulisan ini. Keegoisan yang membiarkan tulisan ini menjadi penanda waktu, bahwa saya pernah bilang “Saya sayang kamu.” Jadi paling tidak, kalaupun cerita tidak sesuai dengan harapan nantinya, kamu atau saya tidak perlu khawatir, karena saya sudah mempersiapkan kalimat “Saya pernah sayang kamu”. Dan ini, penanda waktu itu.

Duh sok manis banget idupnya. Besok kita makan pare yak, biar gak diabetes!

Advertisements

Can i be close to you?

Biar sedikit ada postingan sok galau ala-ala adik SMA maka saya posting saja video musik berikut ini. Sekalian deh saya sertakan liriknya, biar kamu yang baca ikutan nyanyi atau lebih lagi, ikutan terbawa suasananya.

“Bloom”

In the morning when I wake
And the sun is coming through,
Oh, you fill my lungs with sweetness,
And you fill my head with you.
Shall I write it in a letter?
Shall I try to get it down?
Oh, you fill my head with pieces
Of a song I can’t get out.
Can I be close to you?
Oh-oh-oh-ooh, ooh
Can I be close to you?
Ooh, ooh.
Can I take it to a moment
Where the fields are painted gold
And the trees are filled with memories
Of the feelings never told?
When the evening pulls the sun down,
And the day is almost through,
Oh, the whole world it is sleeping,
But my world is you.
Can I be close to you??

Berpikir jauh kedepan

Sally nama gadis itu, dia memutuskan untuk selalu berpikir kedepan. Bukan untuk merancang bagaimana kehidupan kelak, tapi semata agar hidupnya tidak terlalu pekak karena suara-suara di pikirannya. Suara bising, membisikkan aneka jenis pikiran, dari kepalanya sendiri. Hanya dia saja.

time-running-out

Sejak duduk di bangku SMP, Sally selalu merasa bahwa tubuhnya lebih besar dari teman-teman perempuan yang seusianya. Ketika SMA, perasaan yang sama masih juga ada di benak Sally. Pun begitu ketika Sally duduk di bangku kuliah. “Duh, gue gendut banget deh…” Sally membatin setiap kali usai berselfie atau sekedar foto bersama dengan kawan-kawannya.

Waktu berlalu, Sally kini sudah berusia 25 tahun. Melihat kembali foto-foto kenangan ketika Sally berkuliah, segaris senyum terlukis di wajahnya. “Wah, ternyata gue kurus ya pas kuliah. Sekarang gue gendut banget…”

Membalik album kenangan, perhatian Sally terpaku pada foto yang mengabadikan momen ulang tahun sahabatnya kala SMA. Di foto itu Sally mengenakan kemeja bermotif bunga-bunga berwarna kuning dengan campuran jingga, dipadu celana jeans model cutbray yang ketika itu sedang sangat populer di kalangan remaja. “Gilak, pas SMA gue sekurus ini tho… sama lah sama anak-anak perempuan lainnya..”

Satu lagi foto yang menarik mata Sally. Gambar lima bocah berseragam putih biru yang sedang bergaya di lapangan sekolah. Sally kenal sekali dengan gadis kecil yang tersenyum sumringah, sambil menenteng jajanan favoritnya, cimol bumbu keju balado. “Ck..ck..ck.. pas SMP ternyata gue gak gede-gede banget ya. Kok dulu gue mikirnya gue paling gede diantara anak perempuan lain. Mereka kurus dan gue gendut… tapi kalo sekarang gue liat di foto ini. Sama ah ukuran badannya…”

Melihat kembali kenangan masa lalu membuat Sally terpaku. Sally sadar bahwa betapa selama ini pikirannya telah banyak membohongi Sally. Tentang bagaimana sang pikiran membuat Sally merasa selama ini bobot badannya lebih berat dibandingkan kawan sebaya. Tentang kelakuan pikirannya yang membuat Sally percaya bahwa Bagas, mantan pacarnya ketika SMP adalah lelaki yang baik dan penyayang serta setia. Bahwa ketika Sally dan Bagas putus saat SMA karena Sally mendapati Bagas selingkuh dengan teman Les nya, adalah kesalahan Sally, karena Sally sibuk dengan segudang ekskul yang diikutinya. Pikirannya juga pernah membuat Sally percaya bahwa tidak ada lelaki lain yang lebih baik, penyanyang, perhatian dan layak untuk dicintai selain Bagas.

Belasan tahun kemudian, Sally yang kini berusia 25 tahun hanya bisa tersenyum. Kadang pula tertawa, mengingat kembali bagaimana pikirannya membodohinya. Sally yang berusia 25 tahun belajar banyak, tersadar bahwa dia semestinya berpikir jauh kedepan.

Bahwa semuanya akan berlalu, dan segala cerita sial maupun kesedihan suatu saat akan menjadi bahan bercandaan yang lucu. Hidup itu lucu. Selucu anak SMP yang selalu merasa tubuhnya gemuk, padahal ukuran bajunya ketika itu adalah “S”. Hidup itu lucu. Selucu anak SMA yang baru merasakan cinta monyet dan perpikir itu adalah cinta terakhirnya.

Hidup itu lucu, selucu gadis 25 tahun yang kebingungan tentang apa yang harus dia lakukan di dalam hidupnya.Setidaknya cerita ini akan menjadi lucu, ketika sang gadis sudah menginjak usia 30 tahun, atau ketika dia sudah bertemu dengan tujuannya.

Sampai saat itu tiba, ingat saja…. berpikirlah jauh kedepan. Bukan untuk berencana, tapi untuk percaya bahwa semuanya akan lucu pada waktunya. Ah, nanti juga semuanya akan baik-baik saja.

Jakarta, 23 Maret 2017. 3:27 AM. Ditulis oleh manusia yang mendadak ingin menulis tapi tidak tahu ingin menulis apa, manusia yang harusnya tidur dan beristirahat, namun belum tahun bagaimana caranya.