Dongeng Semut 

Semut kecil menangis, tersesat dari kawanannya yang melacak jejak remahan biskuit di lantai dapur sebuah rumah mewah.

Semut kecil berumur hitungan hari lantas mencoba mencari, berjalan sendiri ditemani kekhawatiran dan rasa takut yang kian membuat nyalinya ciut.

Tibalah sang semut di depan sebuah pintu besar terbuat dari besi. Ketika didekati, pintu besar tersebut mengeluarkan bunyi menderu, seolah ada sesuatu yang terkungkung ingin keluar dari balik pintu.

Ops, nyaris saja sang semut kecil terinjak telapak kaki anak manusia berusia belasan tahun yang membuka si pintu besi.

Dari bawah, si semut kecil dapat merasakan perubahan suhu udara yang mendadak sejuk ketika pintu besi dibuka.

Sang anak belasan tahun meraih botol berisi minuman sari buah mangga. Permukaan botol yang licin, membuat cengkraman tangan anak belasan tahun tak optimal. Botol berisi sari buah mangga jatuh ke lantai, sebagian cairan manis berserak keluar dari botolnya.

Semut kecil kewalahan, air bah berwarna kuning lengket menenggelamkannya.

Anak belasan tahun memungut botol minuman yang isinya masih tersisa lebih dari setengah, berteriak “Bibi, tolong ambil kain lap dan pel lantainya yaaaa!” Kemudian berlalu, meninggalkan semut kecil yang berenang dalam genangan sari buah mangga.

Mengira ini akhir hidupnya, semut kecil berupaya keluar dari genangan sari mangga, menggerak-gerakkan kakinya, berharap secepatnya bisa keluar dari samudera sari mangga.

“Glek!” Tanpa sengaja semut kecil menelan air sari mangga. Manis, rasa kesukaan kaumnya.

“Manis! Manis! Hore!” Teriak semut kecil kegirangan dalam hati.

Diteguknya sari mangga banyak-banyak. Rasa manis yang membuatnya bahagia, kemudian lupa bahwa dia harus mencari koloninya.

Berenang, bekecipak, sambil sering kali meminum sari buah mangga, semut kecil kegirangan.

Sadar berada di samudera cairan manis berwarna kuning, semut kecil memanfaatkannya untuk berleha-leha. “Untuk apa berjalan jauh kalau disini sudah ada, untuk apa mencari lagi kalau disekelilingnya air manis melimpah ruah”

“Aaaaaaaargh……” tepat ketika semut kecil menyelonjorkan kaki-kakinya, mencari posisi paling nyaman di lautan sari mangga, tiba-tiba badannya ditimpa sesuatu yang sedemikian besar, semut kecil remuk redam, badannya hancur, nyawanya hilang. Tepat ketika dia merasa tak usah kemana-mana, saat yang sama ketika dia berpikir untuk menetap selamanya, di genangan sari mangga.

“Huh! Dasar bocah sembrono, musti aja numpahin apa-apa, musti aja kalo makan berantakan. Sebel aku, kan jadi banyak semut. Udah gitu, aku deh yang disuruh mberesi. Nasip, nasip, jadi babu!” Gerutu si Bibi yang mengerjakan perintah majikan kecilnya, mengelap tumpahan sari mangga yang sempat dikira surga, oleh si semut kecil berumur beberapa hari.

Semut kecil yang terpisah dari keluarganya. Semut kecil yang berniat tinggal selamanya, namun selamanya adalah fana.

Advertisements