Maha Pemaaf

image
Cahaya ada karena gelap membiarkannya terlihat

Akal adalah pembeda manusia dengan mahluk lain ciptaan Tuhan,  begitu katanya.
Akal memproduksi banyak pertanyaan, dari yang paling sederhana hingga yang tak ada jawabnya. Akal menjaga manusia, untuk tidak sembarang mengumbar rasa, nafsu dan hawa. Akal, si super ego yang ada di dalam kita.

Akal juga bisa menyesatkan, tergantung apa itu ukuran sesat yang diterapkan, tergantung dimana penerapannya, dan siapa yang menilainya.
Selama manusia, semuanya akan berakhir pada penilaian subjektif, atau sebaik-baiknya, penilain subjektif bersama yang kemudian dilabel sebagai penilain objektif.

Akal manusia adalah yang paling saya suka. Banyak manusia saya temui, berbeda pula akal-akal yang saya kenali. Menarik. Semua menarik.

Ada satu akal yang hingga kini masih saya ingat, akal yang sedemikian berkesan. Akal seorang teman ketika kami berbincang tentang Tuhan.

Saya : Manusia tuh suka seenaknya ya, kita sadar kalau kita banyak dosa, tapi tetap aja melakukan apa yang kita tahu sebagai dosa.

Teman : Karena manusia sadar, mereka punya Tuhan.

Saya : Justru bukanya karena kesadaran berTuhan, seharusnya manusia berusaha meminimalisir dosa-dosa favorit mereka?

Teman : Disebutkan bahwa Tuhan Maha Pengampun, Tuhan Maha Pemaaf, kalau Dia tidak mengampuni dan memaafkan, berarti dia bukan tuhan…

Kemudian akal saya tercengang. Mungkin karena dia memang terlalu mudah kagum, bisa juga karena jarang digunakan atau terlalu sibuk berlari kesana-kemari.

Tuhan Maha Pengampun, Tuhan Maha Pemaaf.

Advertisements

Tak selamanya, Tak mengapa.

Ada beberapa atau mungkin malah banyak hal dalam hidup ini yang dari awal mulanya sudah dapat kita rasakan bahwa hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Namun pada kenyataannya tetap kita nikmati saja, sambil curi-curi harap bahwa waktu akan memuai, setidaknya memperpanjang saat. Ambil contoh sebuah hubungan , atau sebuah benda kesayangan. Be it a relationship, a friendship, or even a ship, nothing is last forever. Ya, kita sebagai mahluk mortal mestinya sadar sejak awal bahwa semua akan berakhir. Semua apa, tanpa terkecuali. Postingan kali ini saya tujukan untuk aneka kesempatan, kejadian, benda dan manusia yang pernah atau sedang ada dalam hidup saya, yang saya tahu pasti akan pergi, atau hilang, atau dicuri orang, atau ditelan waktu, apapun itu yang menjauhkanya dari hidup saya. Bahkan si “hidup”-pun pasti akan pergi dari saya, nanti. Buat menemani kamu, mungkin ada baiknya klik link ini biar bacanya makin syahdu gitu.

DSC_0144
Pemandangan dari belakang salah satu patung Budha di candi Borobudur. Foto ini saya ambil saat solo trip ke Magelang tahun 2014. Membuat saya berpikir, sudah berapa lama bukit dan patung Budha itu saling pandang? Apa memang dari awal demikian?  Lantas sampai berapa lama mereka akan terus begitu bertahan?

*****

Ketidakabadian datang diantara kita, kamu, saya, dia, ayahnya, ibunya, kakaknya, saudaranya, rumahnya, kebunnya, hewan peliharaannya, bunga-bunganya, ideologinya, gaya rambutnya, konsistensi rasa pada kuah bakso yang diraciknya, juga datang pada derajat suhu di udaranya. Ketidakabadian yang diam-diam didoakan agar pergi saja, sirna. Tapi doapun kalah ternyata, ketidakabadian tetap ada.

Manusia-manusia berharap dapat lebih lama lagi, semenit, lima menit, sehari, setahun, selamanya! Selamanya! padahal mereka sadar selamanya tidak pernah datang, bahkan dia tidak sudi bertandang ke dunia. Bukan bumi ini, manusia.

Ketidakabadian yang disederhanakan sebagai “perubahan” oleh beberapa dari mereka. Lantas dibuatlah kalimat bijak bahwa satu-satunya hal yang tidak pernah berubah adalah perubah itu sendiri.

Tapi mahluk-mahluk mortal ini selalu rindu “abadi”, selalu ingin lebih lama lagi, padahal ketika sesuatu itu terjadi, mereka seringnya tidak disana. Entah memikirkan apa yang sudah terjadi, atau menghawatirkan besok harus berbuat apa lagi. Kemudian mereka berusaha, memeluk seerat mungkin apa yang ingin dipertahankan, mengerahkan daya upaya. Mahluk mortal tidak sadar bahwa semua akan percuma, tapi mahluk mortal bahagia. Itu saja, cukup itu saja.

Sayapun juga, mahluk mortal. Saya sering abai, membodohi diri sendiri bahwa ada yang akan abadi, ada yang akan selamanya, meskipun dari awal saya tahu, itu hanya halusinasi. Mimpi!

Tapi……

Tak selamanya-pun tidak mengapa. Tak selamanya bukan tidak bermakna. Dia ajarkan kita untuk meresapi rasa, menikmati masa, mensyukuri yang ada. Dia mengajarkan kita tentang batas ditengah keyakinan kita bahwa manusia adalah mahluk bebas.

Tak selamanya juga tak mengapa, toh semua kita hanya diberi sekali hidup. Jikapun ada yang percaya reinkarnasi, kita tidak akan menjadi kita lagi. Cerita tidak akan sama semula.

Terimakasih semuanya, untuk semua yang tidak selamanya, dari saya, mahluk mortal yang sadar bahwa ini akan berakhir, bahwa begitu jalannya takdir.

-Jakarta, 14 Mei 2016. 2:23 AM-

-Rossalyn Asmarantika, yang terjaga ditengah malam dan tiba-tiba ingin menulis saja-