Somebody for someone

Duh, agak galau gak sih judulnya itu? Ya tergantung perasaan kamu yang lagi baca ajasih gimana menginterpretasikannya. Postingan kali ini saya buat berdasarkan riset penuh rasa sok tahu dan pengalaman berbincang dengan beberapa teman yang pernah punya seseorang yang sangat berarti dalam hidup mereka, dan kini entah dimana si seseorang itu, atau tau sih si seseorang itu ada dimana dan sering stalking account sosial medianya gitu, cuma ya si seseorang itu udah gak “ditempatnya” lagi. Ihiks :’)

Berbicara soal tempat, iseng saya cari makna kata “tempat” dulu lah, biar postingan ini terkesan sedikit ilmiah karena ada risetnya ya…

Merujuk pada website KBBI, kata “tempat” memiliki delapan makna tergantung penggunaannya. Tempat/tem·pat/ n 1 sesuatu yang dipakai untuk menaruh (menyimpan, meletakkan, dan sebagainya); wadah; bekas: — obat; — tinta; 2 ruang yang tersedia untuk melakukan sesuatu: — belajar; — duduk; 3 ruang yang dipakai untuk menaruh: — pembuangan sampah; — sepeda; 4 ruang yang didiami (ditinggali) atau ditempati: — kediaman; — tinggal; 5 bagian yang tertentu dari suatu ruang : hal itu bergantung pada waktu dan — nya; 6 negeri (kota, desa, daerah, dan sebagainya): di beberapa — dapat ditanam anggur; 7 sesuatu yang dapat (dipercaya) menampung (tentang isi hati, keluhan, pertanyaan, dan sebagainya): sehari-harian sayalah — ia berbicara dan berunding; — berkata; 8 kedudukan; keadaan; letak (sesuatu): di kantor itu ia sudah mendapat — yang baik; tidak pada — nya, tidak sesuai dengan keadaannya; tidak pantas;

Apabila membaca penjelasan diatas, rasa-rasanya definisi nomer empat dan nomer tujuh paling kece dan cocok untuk semua definisi menye-menye.

“Semua orang punya tempat untuk seseorang di hati mereka” kata mutiara ini pasti diam-diam diamini sama yang baca. Lantas jadi keinget deh itu hati udah pernah ditempatin siapa aja, atau malah sampai sekarang masih ada penumpang gelapnya, mungkin.

Terus jadi intinya postingan ini mau ngomongin apa??? Ah, bingung juga….. berhenti nulis aja apa ya… Ah tapi jangan, udah terlalu banyak hal yang saya mulai dan tidak pernah terselesaikan di dunia ini, dan tulisan ini tidak akan jadi salah satunya. Jadi……… intinya kita sebagai manusia, patutnya paham bahwa setiap kita punya peranan masing-masing dalam hidup, baik itu hidup kita sendiri atau hidupnya orang lain. Dari itu, hedaklah kita maklum jika ternyata kita bukan satu-satunya orang yang ada di hati pasangan, pacar, kekasih atau apalah sebutan yang kamu sematkan untuk orang yang sering bikin perasaan kamu berbunga-bunga dan membuat kamu senang untuk sekedar berada di dekat dia. Cieeeeeeeee.

Banyak cerita dari teman-teman saya, bahwa mereka punya seseorang yang masih numpang di hati mereka meskipun sekarang mereka punya pasangan lain. Wajar lah, namanya juga manusia. Toh dari lahir kita udah diajarkan untuk membagi cinta dan kasih sayang pada lebih dari satu orang. Eits ntar dulu, bukan maksudnya bagi-bagi kasih sayang macem selingkuh gitu, bukan…. tapi dari kecil, kita kan sudah diajarkan untuk sayang sama ayah, ibu, serta saudara-saudara kita. Terus gimana caranya pas udah gede dan ngerti romansa kita bisa cuma cinta sama satu orang aja?  Kalo yang gak setuju, mending nonton dulu film yang judulnya “Before We Go” yang diperankan dan disutradarai Chris Evans. Tentang apa? nonton ajalah, saya gak mau cerita.

Intinya, mungkin gak sih kita mencintai lebih dari satu orang dalam saat yang bersamaan?? MUNGKIN BANGET. Ya, jawaban saya yang udah denger cerita beberapa pihak dan udah nonton film “Before We Go” dan juga udah (ehem) sedikit belajar dari pengalaman, ya nyatanya mungkin aja kita sayang atau cinta sama beberapa orang (diluar keluarga) secara bersamaan. Namun dalam perjalanannya, kita belajar bahwa cinta yang banyak tidak melulu baik, bahkan gak jarang menyakitkan bagi beberapa orang. Dari itulah kawan-kawan, ada yang disebut komitmen. Apa?? ko-mit-men, bro….

….ko-mit-men!

Saya juga gak terlalu paham dan agak ngeri sama kata yang satu itu sih, karena satu-satunya komitmen yang sampai sekarang saya bisa jalani adalah untuk selalu bahagiakan ayah dan ibu juga diri sendiri.Udah, itu aja.

Ah, jadi saya gak capable ya untuk menulis lanjutan artikel sok menasehati ini. Yasudah sampai disini saja. Sampai jumpa di postingan berikutnya yang entah kapan akan ada.

Advertisements

5 Comments

  1. Tulisan ini rasanya nanggung…. masa ujung2 ya blg gak capable huft, padahal saya baca sampe selesai 😀

  2. Tadi nonton Metro TV liat ada reporter berjilbab, cakep. Lalu iseng-iseng browsing, eh nemu blog ini, bagus juga tulisannya. Kamu harus menulis lebih banyak…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s